Sebaran DBD di Banyumas Meluas hingga 50 Desa

Editor: Makmun Hidayat

PURWOKERTO — Sebaran kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Banyumas terus meluas. Akhir tahun 2018 lalu, DBD hanya dijumpai pada 4 kecamatan, namun sekarang sudah meluas, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banyumas mencatat, ada 50 desa/kelurahan yang rawan DBD.

Dari 50 desa/kelurahan rawan DBD tersebut, tercatat sebanyak 16 desa/kelurahan termasuk wilayah endemis. Dan sisanya termasuk kategori potensial penyebaran DBD.

Suatu wilayah dinyatakan sebagai endemis DBD, apabila muncul kasus serupa dalam kurun waktu tiga tahun berturut-turut. Sementara jika kemunculan DBD baru satu atau dua kali, termasuk katergori wilayah potensial DBD.

Kepala Dinkes Banyumas, Sadiyanto mengatakan, jumlah penderita DBD bisa ditekan dan tidak bertambah. Namun, sebaran kasus semakin meluas.

“Kalau jumlah penderita DBD relatif bisa ditekan, perbandingannya masih di bawah 1: 100 penduduk. Namun penyebarannya meluas, karena itu kita terus menggalakan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN),” terangnya, Jumat (12/4/2019).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas, Sadiyanto. – Foto: Hermiana E. Effendi

Dari data Dinkes Banyumas, hingga akhir bulan Maret kemarin, tercatat ada 601 warga yang suspect DBD. Dari jumlah tersebut, sebanyak 75 orang dinyatakan positif DBD. Sementara untuk korban meninggal dunia ada 6 orang.

Sadiyanto menjelaskan, memasuki bukan April ini, ada kemungkinan jumlah penderita bertambah, mengingat penyebaran DBD meluas.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Dinkes terus mengintensifkan pemantauan, terutama di wilayah-wilayah rawan DBD. Pemantauan dilakukan dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat dan pemerintah desa setempat.

Warga serta pemerintah desa, diimbau untuk terus meningkatkan PSN. Meskipun curah hujan sudah mulai berkurang, namun PSN jangan sampai terhenti. Motode pencegahan yang dilakukan, lanjut Sadiyanto, penanganannya sudah seperti status kejadian luar biasa (KLB).

“Walaupun belum sampai kejadian luar biasa, namun penanganan kita sudah seperti KLB. Khusus untuk wilayah endemis dan ptoensial DBD, kita tingkatkan pemantauannya, warga kita imbau untuk melakukan PSN setiap seminggu sekali dan jika kita melakukan secara rutin selama minimal tiga minggu berturut-turut, kemungkinan besar sudah tidak ada lagi nyamuk,” jelasnya.

Menurut Sadiyanto, kasus DBD masih berpotensi terjadi hingga beberapa waktu ke depan. DBD biasanya muncul seiring dengan datangnya musim hujan yang diperkirakan akan terjadi hingga bulan Juni mendatang.

Lihat juga...