Sekolah Harapkan, Orang Tua Awasi Kesiapan Anak Ikut UN

156
Ilustrasi UNBK-Foto: Dokumentasi CDN.

TIMIKA – Sekolah-sekolah di Kota Timika, Papua mengharapkan dukungan dan kerja sama para orang tua, untuk mengawasi anak-anak yang akan mengikuti Ujian Nasional (UN).

UN untuk jenjang SMP akan digelar 23 April hingga 26 April 2019. Kepala SMP YPPK Santo Bernadus Timika, Saur Simbolon, mengatakan, penyelenggaraan UN SMP tahun ini berdekatan dengan agenda Pemilu 2019.

Segala kemeriahan penyelenggaraan pemilu, bisa memengaruhi persiapan siswa. Apalagi, dalam setiap kegiatan kampanye pemilu yang dilaksanakan oleh partai politik maupun para calon legislatif, ditemukan banyak anak belum cukup umur mengikuti rangkaian dari pesta demokrasi tersebut.

“Saya kira kondisi ini bisa sangat berpengaruh kepada anak-anak. Kita lihat saja setiap ada kampanye, ada banyak anak-anak di bawah umur yang ikut meramaikan kegiatan itu. Tidak tertutup kemungkinan ada di antara anak-anak yang ikut kegiatan kampanye pemilu itu justru sedang mempersiapkan diri menghadapi ujian nasional,” tandasnya.

Menghadapi situasi demikian, Saur menilai, pentingnya peran orang tua untuk mengawasi putra-putri mereka. Terutama mengenai kegiatan belajar di rumah untuk menghadapi UN. “Sekolah tidak tahu situasi di rumah siswa masing-masing. Apakah orang tua memberikan kebebasan sebebas-bebasnya kepada anak-anak mereka. Itu kembali kepada orang tua masing-masing. Ingat, waktu pelaksanaan UN jenjang SMP tidak sampai dua minggu lagi. Kalau mengharapkan anak-anak bisa memperoleh hasil yang memuaskan, tidak hanya sekadar lulus ujian, maka butuh keterlibatan orang tua untuk membimbing dan mengarahkan anak-anak mereka di luar jam sekolah,” katanya.

Tahun ini, SMP YPPK Santo Bernadus Timika, untuk pertama kalinya menggelar Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Sekolah itu awalnya menyiapkan 82 komputer untuk digunakan 295 peserta. Namun, sebulan lalu, sekelompok kawanan pencuri menggasak 15 komputer milik SMP YPPK Santo Bernadus Timika.

“Ini menjadi pergumulan kami, bagaimana nanti tanggal 23 April-26 April anak-anak bisa mengikuti UNBK tanpa ada kekurangan fasilitas komputer. Kekurangannya apakah kami harus pinjam dari siswa ataukah harus meminjam dari sekolah lain. Yang jelas, kami melaksanakan UNBK dalam tiga sesi, di mana setiap sesi minimal harus ada 89 unit komputer yang siap digunakan oleh peserta,” kata Simbolon.

Menurutnya, persiapan siswa menghadapi UNBK sudah cukup maksimal, melalui dua kali simulasi dan sekali geladi. Pihak sekolah juga memberikan tambahan jam pelajaran khusus untuk empat materi pelajaran UN, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, dan Matematika.

Kekurangan sarana dan prasarana pendukung UNBK juga dirasakan oleh SMP Negeri 2 Mimika selaku satu-satunya sekolah rujukan jenjang SMP di Kabupaten Mimika. Kepala SMP Negeri 2 Mimika, Tania Sihombing, mengatakan sekolahnya memiliki 408 peserta UN.

Sedangkan komputer yang tersedia hanya 165 unit. Sekolah itu akan melaksanakan UNBK dengan dua sesi, di mana setiap sesi dibutuhkan 204 komputer. “Kekurangan fasilitas komputer SMP Negeri 2 Mimika dipenuhi oleh SMP Negeri 5. Kami akan melaksanakan UNBK dalam dua sesi, sementara sesi ketiga akan dipakai oleh SMP Negeri 5 Mimika dengan jumlah peserta ujian sebanyak 176 siswa,” katanya.

SMP Negeri 2 Mimika juga mengalami kasus kecurian komputer tujuh unit, beberapa pekan lalu. Tania mengaku tidak mengkhawatirkan penyelenggaraan pemilu yang berdekatan waktunya dengan UN tingkat SMP. “Kalau pemilu itu agenda nasional yang wajib kita semua sukseskan. Kami tidak khawatir anak-anak terganggu persiapannya, karena memang tidak ada anak-anak SMP Negeri 2 Mimika yang sudah bisa mengikuti pemilu kali ini,” katanya.

Data Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Mimika, tahun ini terdapat 25 SMP di Mimika menggelar Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). (Ant)

Lihat juga...