Selama Masa Tenang, Pemberitaan Kampanye Terancam Pidana

148
Ilustrasi - Dok CDN

JAKARTA – Media yang menayangkan pemberitaan kampanye, seperti visi-misi dan hal-hal yang dapat mempengaruhi pandangan masyarakat selama masa tenang, terancam hukuman pidana.

Wakil Ketua Dewan Pers, Ahmad Djauhar, mengatakan, satgas pemilu yang terdiri atas Dewan Pers, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) akan mengawasi pemberitaan media selama masa tenang di 14 hingga 16 April 2019.

“Sanksinya dikembalikan ke Undang-Undang Pemilu, tindak pidana pemilu, bukan lagi etika kalau jelas aturan ada. Kalau ke Dewan Pers, itu kaitannya sama etika, misalnya, itu di luar saat pemilu,” jelasnya, Jumat (12/4/2019).

Wakil Ketua Dewan Pers Ahmad Djauhar (Foto: Ant)

Ahmad Djauhar mengatakan menyiarkan pemberitaan tentang peristiwa saat masa tenang tetap diperbolehkan. Namun, tidak boleh dikaitkan dengan aktivitas kampanye. Pemberitaan peristiwa terkait pemilu, misalnya, distribusi logistik pemilu, atau hal-hal yang perlu diketahui masyarakat tetap diperbolehkan. Begitu juga kegiatan calon presiden, wakil presiden dan legislatif, menjelang pemungutan suara.

Asal pemberitaan tidak terkait keunggulan salah satu calon atau partai politik. “Human interest boleh, asal jangan melebih-lebihkan, dibumbui dengan kampanye keberhasilan ini-itu, itu sudah mempengaruhi. Kalau, misalnya, kaitannya masih human interest tidak apa-apa,” ujar Ahmad Djauhar.

Selain dilarang menyiarkan berita, iklan, rekam jejak peserta pemilu atau bentuk lain yang dapat mengarah pada kepentingan kampanye pemilu, yang menguntungkan atau merugikan peserta pemilu, media massa cetak, media daring, media sosial dan lembaga penyiaran selama masa tenang juga dilarang mengumumkan hasil survei atau jajak pendapat tentang pemilu. Apabila melanggar, berdasarkan UU Pemilu, sanksinya adalah pidana kurungan paling lama satu tahun, dan denda paling banyak Rp12 juta.

Lihat juga...