Sembilan Negara Berkumpul di Bali Membahas Limbah Daur Ulang

Editor: Mahadeva

247

BADUNG – Sembilan negara yang tergabung dalam Asosiasi Asian Chemical Fiber Industries Federation (ACFIF), menggelar konferensi di Bali.

Asosiasi yang merupakan himpunan industri serat kimia dan buatan, yang menaungi produsen serat tersebut membahas masalah dunia terkait limbah plastik. Konferensi ke-12 tersebut, mengambil tema, Sustainability of Man Made Fibers.  Ke-sembilan negara di Asia tersebut adalah, Jepang, Cina, Cina Taipei, India, Korea, Malaysia, Pakistan, Thailand dan Indonesia.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (Apsyi) perwakilan Indonesia, Ravi Shankar.-Foto: Sultan Anshori

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (Apsyi) Perwakilan Indonesia, Ravi Shankar, mengatakan, selain pembahasan persoalan terkait industri serat kimia dan buatan, juga membahas solusi keberadaan limbah dari sampah industri serat buatan baik poliester, rayon dan juga nilon.

“Di Pertemuan kali ini kami juga membahas masalah sampah yang menjadi perhatian dunia. Termasuk membahas proyeksi dari bahan baku serat kimia tersebut. Yang menjadi poin pentingnya, bagaimana bahan plastik bisa didaur ulang secara berulang kali. Kita menindaklanjuti, jika limbah ini sampai ke laut,” ujarnya, Minggu (14/4/2019) petang.

Industri serat disebutnya, bisa mendaur ulang botol-botol plastik yang terbuat dari bahan baku serat. Saat ini, sudah banyak negara-negara di dunia yang mulai menggunakan produk ramah lingkungan. Jepang sukses dengan kisahnya mendaur ulang sampah. Ravi menerangkan, pemerintahan Jepang memiliki peraturan mengenai pembagian sampah yang bisa dibakar dan didaur ulang.

“Kita bergerak di bidang plastik polyester. Banyak industri-industri yang sudah mendaur ulang botol-botol plastik menjadi serat. Ini solusi jangka panjang. Semakin ke depan, konsumsi orang semakin meningkat. Ini bisa dibuktikan bahwa sampah plastik bisa menjadi benang dan karpet, dan jika tak terpakai lagi, kemudian dibakar menjadi energi baru. Ini yang menjadi konsen kami, terutama di Indonesia. Dan saya harap Indonesia banyak belajar dari negara yang sudah memulainya,” tutur pria keturunan India tersebut.

Di Konferensi ACFIF ke-12, Indonesia melalui Apsyi, dipercaya sebagai tuan rumah. Selain dihadiri negara anggota ACFIF, pertemuan juga dihadiri perwakilan dari empat negara peninjau yang terdiri dari Denmark, Kuwait, Jerman dan Swedia. Konferensi tersebut menjadi kesempatan penting bagi para pemangku kepentingan, untuk memperoleh informasi terbaru dan akurat, terkait industri serat kimia dan buatan.

Termasuk, pengembangan di samping peluang besar untuk memperluas jaringan bisnis. “Konferensi ini adalah acara yang sangat penting bagi semua pemangku kepentingan, Konferensi ke-12 ini, banyak topik tentang informasi terkini dan akurat mengenai industri serat akan disajikan para ahli di setiap bidang,” kata Shanker.

Masayuki Waga Perwakilan ACFIF Jepang mengatakan, di negaranya kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya sudah dimulai sejak awal 1970-an. Masyarakat diberikan pemahaman, serta regulasi untuk ikut serta memilih dan memilah sampah yang dihasilkannya.

Untuk limbah Polyester, dimanfaatkan menjadi produk berdaya guna. Seperti karpet, gorden dan berbagai produk rumah tangga lainnya. Sehingga negara bisa mencari solusi untuk bisa keluar dari ancaman lingkungan yang disebabkan oleh limbah khusus limbah plastik dan Polyester.

“Saya ingin membagi kisah sukses di Jepang dimana ada dua hal yang menjadi fokus ini. Untuk limbah poliester adalah dengan memanfaatkan baju untuk dibuat benang kembali dan kemudian untuk bisa dijadikan karpet. Kedua adanya sebuah aturan dari pemerintah untuk menanggulangi masalah lingkungan ini,” tandas Masayuki Waga.

Lihat juga...