hut

Serunya Melihat Benda Langit Lewat Teleskop di Planetarium

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Animo masyarakat dalam memantau benda langit, sebenarnya sangat tinggi. Ini terlihat dari beberapa acara peneropongan yang diselenggarakan Planetarium Jakarta, selalu diramaikan oleh masyarakat dari berbagai jenjang umur.

Staf Planetarium Jakarta Muhammad Rayhan menyebutkan saat gerhana matahari atau gerhana bulan, masyarakat yang datang dan melakukan peneropongan bisa berjumlah ribuan.

“Kalau saat momen, yang datang bisa banyak sekali. Tapi kalau peneropongan biasa, seperti malam ini, jumlahnya tidak terlalu banyak. Penyebabnya bisa karena jam segini kan jam pulang kantor. Ditambah juga, karena masih sore, jadi cahaya masih banyak dan mengganggu proses peneropongan,” kata Rayhan saat mendampingi para pengunjung melakukan peneropongan bulan dengan menggunakan salah satu teleskop di Planetarium Jakarta, Rabu malam (10/4/2019).

Rayhan menjelaskan pada peneropongan kali ini, sebenarnya pecinta langit seharusnya bisa melihat bulan dan planet Mars. Hanya memang kondisi langit Jakarta tidak mendukung.

“Malam ini rada mendung, jadi Mars-nya tidak kelihatan. Tapi bulan bisa terlihat bagus,” ujarnya seraya menunjukkan cara memfokuskan teleskop agar objek yang sedang dibidik terlihat utuh.

Bulan dilihat dari Teleskop Takahashi type MT 160 dan pengambilan foto menggunakan kamera HP. – Foto: Ranny Supusepa

Lebih lanjut Rayhan menjelaskan bahwa dalam memantau benda langit, ada beberapa faktor yang mempengaruhi.

“Yang pertama adalah polusi cahaya. Cahaya yang terlalu terang akan mengganggu proses pengamatan. Sehingga, selalu diupayakan agar pemantauan benda langit jauh dari pusat cahaya. Bisa dibilang, pecinta langit sangat suka kalau sedang mati lampu,” urainya.

Faktor polusi udara juga dapat mempengaruhi pengamatan benda langit. Misalnya kondisi mendung atau kumpulan awan yang mampu menghalangi proses pengamatan.

“Bagi astronomer, atmosfer itu juga merupakan halangan. Jadi bukan hal aneh, kalau para astronomer rela mengeluarkan biaya besar untuk meluncurkan teleskop ke luar angkasa demi mendapatkan kesempatan yang lebih luas dalam memantau benda langit,” kata Rayhan lebih lanjut.

Posisi saat melakukan pemantauan juga mempengaruhi. Jangan sampai terhalang oleh gedung. “Mangkanya, kalau di seputar observatorium biasanya dilarang untuk mendirikan gedung tinggi,” ucap Rayhan.

Staf Planetarium Jakarta, Muhammad Rayhan. – Foto: Ranny Supusepa

Yang terakhir adalah diameter optik teleskop. Semakin besar optik teleskop maka akan semakin banyak benda langit yang dapat terpantau.

“Analoginya seperti ember. Semakin besar ember maka akan semakin banyak air yang bisa ditampung. Begitu pula teleskop,” tambahnya.

Salah seorang pengunjung, Ayunda Putri, siswi SMP 40 Jakarta Pusat menyatakan dirinya senang, diajak ibunya untuk melihat bulan dengan teleskop.

“Kelihatan bulannya. Tapi kok cuma setengah ya,” ujarnya sambil tertawa.

Rayhan menyebutkan Planetarium Jakarta akan melakukan peneropongan juga saat Gerhana Bulan Partial yang akan berlangsung pada 27 Juli 2019 dan Gerhana Matahari di bulan Desember.

“Untuk mengantisipasi jumlah pengunjung, kita akan mengadakan di halaman belakang dengan menggunakan teleskop portabel,” pungkasnya.

Lihat juga...