hut

Sulitnya Akses Perbankan Jadi Kendala Usaha Berbasis Online

Editor: Koko Triarko

Pelaku usaha jasa pembuatan website, Andi Praesti –Foto: Jatmika H Kusmargana

YOGYAKARTA – Persoalan permodalan, ternyata masih menjadi kendala utama dalam mengembangkan bisnis berbasis internet atau sistem online. Pasalnya, tak sedikit lembaga penyedia modal seperti bank, diketahui masih belum mempercayai sepenuhnya usaha berbasis online, dan mau mengucurkan dana mereka. 

Hal itu diungkapkan salah seorang pelaku usaha berbasis internet di Sleman, Andi Praesti. Pria yang menggeluti bisnis jasa pembuatan website atau web developer sejak 2014 ini, mengalami sendiri bagaimana sulitnya mengakses modal dari dunia perbankan saat merintis usahanya.

“Saat awal merintis usaha, kendalanya memang selalu soal permodalan. Terlebih saat itu, kami tidak punya kantor resmi. Hanya mengerjakan pesanan di rumah. Jadi, saat mengajukan pinjaman modal ke bank, kita kesulitan. Sebab, pihak bank belum percaya dengan usaha kami,” katanya, Selasa (16/04/2019).

Akibat kendala tersebut, Andi mengaku harus mengupayakan akses permodalan dari simpanannya sendiri. Yakni, dengan cara patungan bersama patner bisnisnya. Tentu, cara ini membuat perkembangan usahanya tidak bisa secepat usaha lainnya. Meskipun dari sisi omzet, sebenarnya usahanya tak kalah, bahkan lebih tinggi dibandingkan usaha lain.

“Jadi, pihak bank itu masih lebih percaya pada usaha yang kelihatan secara fisik. Kalau usaha berbasis online kan tidak kelihatan. Tapi untungnya, sekarang usaha ini sudah bisa berkembang dan punya kantor resmi. Sehingga sekarang, tanpa mengajukan permintaan pun sudah banyak bank yang menawarkan akses permodalan kepada kami,” katanya.

Kendala lain yang juga dihadapi Andi dalam mengembangkan usaha jasa pembuatan website, adalah soal SDM. Hal itu karena minimnya programer-programer andal yang mau bekerja sebagai pembuat atau perancang website. Meskipun sebenarnya di Yogyakarta banyak terdapat calon-calon programer lulusan sekolah di bidang IT.

“Memang kalau dilihat, di Jogja ini banyak mahasiswa lulusan IT. Tapi, ternyata tak semua mahasiswa lulusan IT itu mau bekerja sesuai bidangnya. Banyak yang justru memilih bekerja di bidang lain. Karena itu, kita kesulitan mencari SDM, khususnya di bagian programer,” katanya.

Apalagi, menurut Andi, SDM di bidang programer sangat ditutut akan kapasitas dan kemampuannya dalam membuat program. Tidak peduli apakah yang bersangkutan memiliki nilai tinggi atau pernah kuliah di kampus terkemuka dengan segudang prestasi.

“Saat masuk di dunia kerja, memang yang diutamakan adalah skill atau kemampuan. Karena tak sedikit mahasiswa walau lulusan jurusan IT, tapi dari sisi skill, justru kalah dibandingkan anak lulusan SMK Multimedia atau Teknik Komputer Jaringan,” ungkapnya.

Untuk mendapatkan SDM unggul tersebut, Andi mengaku memiliki cara tersendiri. Mulai dari menggunakan sistem freelance, sehinggga memungkinkan seorang programmer bekerja secara bersamaan di perusahaan lain, hingga mendidik anak-anak SMK jurusan Multimedia atau Teknik Komputer Jaringan dengan memberikan kesempatan mereka magang di perusahaannya.

Lihat juga...