Surat Suara Tercoblos di Malaysia, KPU dan Bawaslu Gagal Melihat Bukti

Maskot pemilu 2019 - Dok. CDN

KUALA LUMPUR – Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI gagal melihat secara langsung bukti surat suara tercoblos di Malaysia.

Komisioner KPU yang mendatangi langsung lokasi penemuan di Jalan Seksyen 2/11 Kajang, Selangor adalah, Hasyim Asy’ari dan Ilham Saputra. Sementara anggota Bawaslu RI yang datang adalah, Ratna Dewi Pettalolo.

Rombongan yang berangkat bersama-sama dari KBRI Kuala Lumpur tersebut, tidak berhasil melihat karung-karung berisi surat suara. Surat suara tersebut berada di lantai dua rumah yang menjadi tempat penemuan. Lokasi rumah tempat menyimpan surat suara yang disebut-sebut sudah tercoblos tersebut, sudah diberi garis batas polisi atau police line, dan pintu rolling door-nya ditutup.

Hasyim Asy’ari ketika ditemui usai bertemu dengan Dubes Rusdi Kirana, mengatakan, pihaknya tidak bisa masuk ke lokasi baik di Kajang maupun di Bangi. “Tempatnya diberi police line. Kami bicara dengan polisi yang jaga tidak diberi akses masuk. Pada intinya kami sudah berupaya melakukan verifikasi dan klarifikasi kira-kira di dalam ada apa. Karena belum diberi akses, kami tidak bisa masuk dan belum bisa memberi penilaian apapun terhadap apa yang ada di dalam,” katanya.

Hasyim Asy’ari juga mengatakan, hasil pencarian fakta dugaan surat suara tercoblos di Kajang, Selangor, dan Bangi, Kuala Lumpur, Malaysia, akan diumumkan usai rapat pleno KPU dan Badan Pengawas Pemilu, di Jakarta, Sabtu (13/4/2019).

Sementara itu, anggota Bawaslu, Ratna Dewi Pettalolo, mengatakan, sebenarnya data awal Bawaslu sudah dimiliki, berupa hasil pengawasan di lapangan ketika terjadi peristiwa penggerebekan. Tetapi pihaknya perlu memastikan kembali, karena ada beberapa hal yang belum terang.

“Informasinya ada tiga jenis tas yakni hitam, putih, dan coklat. Kita mau lihat isinya apa. Kedua, apakah isi-nya memang surat suara pos yang diproduksi KPU, ini akan menjadi fakta penting bagi kami, penyelenggara apa yang harus dilakukan dengan adanya peristiwa ini. Kita harus menjaga kepercayaan publik terhadap pemilu,” tuturnya.

Tentang tidak diberinya akses oleh Polisi Malaysia, Ratna mengatakan, dengan demikian beberapa fakta yang ingin ditemukan masih tidak bisa didapatkan. “Ini harus kami diskusikan dengan KPU, dengan kondisi yang ada selama ini,” katanya.

Dia mengatakan PPLN Kuala Lumpur juga tidak berada di lokasi saat peristiwa tersebut. “Nanti kita diskusikan dengan KPU, karena setiap keputusan harus ada argumentasi. Penundaan pemilu kalau dilanjutkan bisa menimbulkan ketidakpercayaan publik. Terhadap proses lain silakan berjalan dan tidak ada masalah. Proses lain yang jalan sudah sesuai aturan,” katanya.

Dalam video dugaan penemuan surat suara dicoblos yang beredar, surat suara tersebut dicoblos untuk pasangan Capres dan Cawapres Nomor Urut 01 dan calon anggota DPR RI Davin Kirana dan Ahmad dari Partai Nasdem.

Sementara itu, sejumlah personel Kepolisian Indonesia, mendampingi anggota KPU serta Bawaslu yang datang langsung ke Kajang, Selangor, dan Bangi, Kuala Lumpur, Malaysia. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Kepolisian Indonesia, Brigjen Polisi Dedi Prasetyo, mengatakan, mereka berangkat ke Malaysia mendampingi perwakilan KPU dan Bawaslu, untuk mengecek lokasi dan dokumen serta berkoordinasi dengan Polisi Diraja Malaysia (PDRM).

“Di sana ada tim asistensi dari Mabes Polri. Bersama dengan liasion officer, dengan staf KBRI, KPU dan Bawaslu tadi rapat bersama PDRM,” ujarnya.

Kepolisian Indonesia juga memiliki atase kepolisian di Kedutaan Besar Indonesia di Kuala Lumpur. Setelah mengecek gudang penyimpanan surat suara Pemilu, Kepolisian Indonesia menyerahkan kepada Bawaslu, terkait ada atau tidaknya pelanggaran Pemilu yang mengarah pada tindak pidana Pemilu atau pidana umum lain.

Lihat juga...