Tagana Lamsel Edukasi Siswa Mitigasi Bencana

Editor: Koko Triarko

190

LAMPUNG – Ratusan siswa SDN 1 Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, berlarian mencari tempat perlindungan. Sejumlah siswa yang sedang melakukan kegiatan belajar membawa tas dan berlindung di bawah meja, sebagian berlari menuju lapangan dengan penuh kepanikan. Sebagian siswa yang terluka  langsung diangkat oleh guru untuk mendapat pertolongan.

Suasana tersebut merupakan simulasi kejadian bencana gempa bumi dan tsunami bagi siswa sekolah di pesisir Rajabasa, Lampung Selayan, Kamis (11/4).

Hasran Hadi, Sekretaris Taruna Siaga  Bencana (Tagana) Lamsel, menyebut, simulasi bencana alam merupakan bagian dari kegiatan Tagana Masuk Sekolah (TMS).

Hasran Hadi, Sekretaris Tagana Lampung Selatan -Dok: Pribadi

TMS merupakan gerakan nasional untuk menyadarkan masyarakat sejak dini dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana alam.

SDN 1 Way Muli dipilih, karena sekolah tersebut merupakan salah satu sekolah di pesisir pantai Rajabasa, yang pernah terkena bencana alam tsunami, pada empat bulan silam, tepatnya pada 22 Desember 2018.

Meski sekolah tersebut aman dari terjangan tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK), sejumlah keluarga siswa menjadi korban. Kehilangan tempat tinggal, keluarga membuat sejumlah siswa tinggal di hunian sementara (huntara), yang dibangun oleh pemerintah.

Hasran Hadi menyebut, simulasi bencana yang digelar melalui kegiatan TMS melibatkan Wahana Visi Indonesia, yang merupakan salah satu organisasi yang bergerak dalam bidang kemanusiaan.

“Peristiwa bencana alam kerap melanda sebagian wilayah Indonesia. Kementerian Sosial terlibat melakukan upaya mitigasi bencana alam sesuai dengan risiko yang ada di setiap wilayah, khusus di Way Muli yang ada di pesisir pantai,” terang Hasran Hadi, Kamis (11/4/2019).

Menurutnya, simulasi penyelamatan diri hingga evakuasi sederhana dan mandiri, harus dilakukan secara sejak dini. Tagana dan sejumlah organisasi terus gencar melakukan sosialisasi pengurangan risiko bencana (PRB) melibatkan sekolah, masyarakat serta pihak terkait.

Pada kegiatan sosialisasi yang diberikan Tagana Lamsel, diajarkan evakuasi yang harus dilakukan jika terjadi bencana, baik perseorangan maupun kelompok.

Hasran Hadi mengatakan, Tagana Masuk Sekolah menjadi bagian dari upaya program edukasi kesiapsiagaan bencana. Sasaran pada sejumlah siswa sekolah bertujuan membangun pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat, saat kenungkinan terjadi bencana.

“Berdasarkan pengalaman, tidak ada yang tahu kapan bencana datang, namun dengan pengetahuan mitigasi bencana bisa membangun masyarakat tanggap bencana, salah satunya melalui Tagana Masuk Sekolah,” bebernya.

Hasran Hadi melanjutkan, selain memberikan materi pertolongan, TMS juga mengajarkan pemahaman membaca rambu arah evakuasi. Melalui kegiatan tersebut, peserta memiliki pengetahuan tentang bencana, potensi upaya pengurangan risiko bencana pada tingkatan yang paling sederhana.

Melalui simulasi dan materi yang diberikan, para siswa diharapkan mampu menyelamatkan diri sendiri dan melakukan evakuasi sederhana bila terjadi bencana.

Hasran Hadi juga menyebut, Tagana Lamsel selain gencar melakukan TMS untuk mitigasi bencana, juga menggandeng masyarakat,  di antaranya melalui pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB) di sejumlah desa yang ada di Kabupaten Lamsel.

Selain membentuk KSB, sejumlah masyarakat juga dibekali dengan kesadaran untuk menjaga lingkungan di wilayah potensi rawan bencana.

Langkah menjaga lingkungan di wilayah potensi rawan bencana, dilakukan di wilayah pesisir dan daerah aliran sungai. Di pesisir pantai kegiatan penanaman mangrove sebagai sabuk hijau (Greenbelt) menjadi cara untuk menahan abrasi akibat angin, gelombang hingga tsunami.

Pada wilayah tepi sungai, kesadaran menjaga lingkungan dilakukan dengan mengajak masyarakat menghentikan aktivitas membuang sampah, penyebab banjir di sungai serta gencar menanam pohon.

Lihat juga...