Tanaman Padi Roboh Akibat Angin Kencang di Penengahan

Editor: Koko Triarko

245

LAMPUNG – Sejumlah petani padi di Lampung Selatan, terpaksa melakukan pengikatan batang padi roboh, akibat hujan dan angin kencang.

Atin, salah satu petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, menyebut, tanaman padi seluas satu hektare miliknya roboh akibat hujan deras disertai angin kencang, pada Minggu (21/4) hingga Senin (22/4). Padi varietas Ciherang berusia sekitar dua bulan miliknya harus diikat menggunakan tali plastik.

Menurutnya, pengikatan tanaman padi dengan plastik rafia, dilakukan karena padi baru bisa dipanen saat usia tiga bulan lebih. Pengikatan dengan tali dilakukan pada beberapa rumpun tanaman padi, lalu ditegakkan.

Mengikat tanaman padi dilakukan pada sejumlah rumpun padi yang rebah ke tanah atau dikenal dengan istilah ayeuh. Keterlambatan pengikatan rumpun padi, menurutnya bisa berimbas bulir padi rontok, terserang hama wereng serta padi berkecambah.

Meski menanam padi varietas Ciherang rumpun pendek, akibat kencangnya angin serta derasnya hujan sebanyak belasan petak tanaman padi miliknya roboh. Sebanyak empat gulung plastik berukuran masing-masing sepanjang seratus meter, digunakan untuk pengikatan.

Ia mengatakan, butuh waktu lima hari untuk melakukan pengikatan pada rumpun padi yang roboh. Sebab, butuh kehati- hatian untuk melakukannya, dan menegakkan rumpun padi yang roboh.

“Hujan serta arah angin yang berlawanan ke segala arah membuat tanaman padi roboh secara tak beraturan, saat pengikatan harus berhati-hati menghindari padi, mengalami kerusakan karena sebagian sudah terendam oleh genangan air,” beber Atin, Senin (22/4/2019).

Pengikatan batang padi, diakui Atin, mendesak dilakukan karena sebagian bulir padi masih hijau atau belum masak. Butuh sekitar satu bulan lebih untuk proses pemasakan.

Pengikatan pada beberapa rumpun padi, selain mempergunakan tali plastik juga terpaksa memanfaatkan ajir bambu. Ajir bambu tersebut dibuat seperti ajir tanaman kacang panjang, untuk menegakkan tanaman padi yang roboh. Selain menghindari batang padi rusak saat roboh, pengikatan dilakukan menghindari penurunan produksi panen.

Petani lain bernama Giyanto, yang lahan padi miliknya roboh juga melakukan pengikatan menggunakan tali plastik. Ia mengaku lebih beruntung, karena tanaman padi varietas IR 64 miliknya siap dipanen dua pekan mendatang.

Sebagian tanaman padi yang sudah menguning menunggu matang sempurna sebelum panen. Meski telah dilakukan pengikatan, sebagian tanaman padi yang sudah roboh mengalami kerusakan, karena  terendam genangan air.

“Pada petak sawah yang berada di dekat sungai kecil, tanaman padi terendam oleh banjir dan sampah sehingga mengalami kerusakan,” beber Giyanto.

Meminimalisir kerusakan akibat tanaman yang roboh akibat hujan dan angin kencang, Giyanto berencana memanen padi miliknya lebih awal. Pada kondisi normal, padi varietas Ciherang bisa dipanen pada usia 110 hari, namun akibat mengalami roboh pemanenan direncanakan saat usia 100 hari.

Hasil panen tanaman padi yang roboh disebutnya berpotensi mengalami penurunan kualitas, ditandai dengan beras berwarna kecoklatan. Selain itu, padi akan mudah remuk saat proses penggilingan.

Gabah kering panen (GKP) akibat roboh bisa menurun hingga 25 persen, dibandingkan panen normal. Percepatan panen disebutnya dilakukan menghindari kerugian lebih besar.

Kerugian bisa mencapai 50 persen berpotensi terjadi pada tanaman padi di wilayah tersebut, yang memasuki proses berbulir. Sebab, proses pertumbuhan bulir padi akan terhambat, bahkan sebagian bulir berpotensi tidak terisi. Selain batang padi roboh mengalami pembusukan batang padi yang roboh membuat pembuahan terhambat.

Lihat juga...