Tenun Massal Lamaholot Ramaikan Festival Bale Nagi

Editor: Mahadeva

LARANTUKA – Sekira 1.000 penenun, yang berasal dari berbagai kecamatan se-Kabupaten Flores Timur melakukan aksi tenun massal. Aksi tenun masal diselenggarakan di sepanjang Taman Kota Feliks Fernandez, Larantuka.

Kehadiran ibu-ibu Penenun dari Lamaholot tersebut memberi warna tersendiri di taman kota tersebut. “Kegiatan ini untuk menggali dan mengangkat kembali nilai budaya Lamaholot yang kian ditelan oleh kemajuan teknologi dan kemolekan zaman sekarang,” ungkap Damsianus Tukan, seorang guru di Flores Timur, Rabu (24/4/2019).

Damsil kepada Cendana News mengatakan, kegiatan menenun massal tersebut memberi pengaruh positif bagi kaum milenial. Kegiatan tersebut, dapat menjadi bahan literasi dasar untuk bangkit dan bergerak melestarikan budaya tenun ikat Lamaholot di level nasional maupun manca negara.

“Sebagai anak Lamaholot kami tentu memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan festival tenun ikat. Ini baru yang pertama diselenggarakan. Kegiatan ini harus bisa memotivasi generasi muda untuk mencintai tenun ikat Lamaholot,” harapnya.

Eman Diaz warga kota Larantuka lainnya berharap, kegiatan tersebut dapat memotivasi penenun khususnya generasi muda. Bila perempuan-perempuan muda tidak mau belajar menenun, maka lambat laun tenun Lamaholot akan hilang.

“Tentunya bagus juga diadakan festival tenun ikat, tapi yang lebih utama yakni mendidik generasi muda, khususnya kaum perempuan untuk bisa menenun. Harus dibentuk kelompok tenun dan mengajarkan proses menenun kepada generasi muda,” pintanya.

Kepala dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Flores Timur Apolonia Corebima (kanan) bersama Damsianus S.Tukan, salah seorang guru.Foto : Ist/Ebed de Rosary

Pemerintah juga perlu mewacanakan pemberian bantuan untuk kelompok tenun. Seperti peralatan tenun hingga bahan-bahannya. Kemudian juga dipikirkan kebutuhan pemasaran.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Flores Timur, Apolonia Corebima, mengatakan, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Kementerian Pariwisata serta Badan Pariwisata Nusa Tenggara Timur terkait penyelenggaraan Festival Bale Nagi. “Saya berharap, pertunjukan tenun akan menarik peziarah dan wisatawan yang hadir ke Kota Larantuka, untuk mengikuti perayaan ritual Semana Sata,” tuturnya.

Menenun kain, merupakan bagian dari rutinitas sehari-hari para perempuan di Flores Timur utamanya etnis Lamaholot. Kain tenun yang diproduksi, dapat dijual untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. “Festival tenun ikat massal ini, menjadi rangkaian dari Festival Bale Nagi yang diselenggarakan oleh Dinas Budaya dan Pariwisata Flores Timur,” terangnya.

Taman Feliks Fernandez menjadi titik destinasi pariwisata ke empat dari kegiatan tersebut, setelah festival Pantai Oa, dan festival Pantai Rako di Kecamatan Wulanggitang. Senin (23/4/2019) lalu juga digelar festival Nelayan di pulau Waibalun.

Lihat juga...