Titihan Samirono Aeromovel TMII, Diresmikan 

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Ketua Umum Yayasan Harapan Kita (YHK), Siti Hardijanti Rukmana (Tutut Soeharto), menandatangani prasasti rekondisi dan pengubahan daya kereta layang “Titihan Samirono” SHS-23 Aeromovel TMII. Usai penandatangan, Tutut Soeharto menekan sirene pertanda diluncurkannya Aoeromovel TMII ini.

“Bismillahirrohmanirrohim, saya resmikan Titihan Samirono Aeromovel ini,” kata Tutut Soeharto, saat menekan sirene di pelataran gedung BPP TMII, Jakarta, Jumat (19/4/2019) sore.

Dari atas, Aoeromovel dengan penumpang anak-anak itu melintas. Mereka melambaikan tangan kepada Tutut Soeharto.

Siti Hardijanti Rukmana (Tutut Soeharto) menekan sirene tanda diresmikan Titihan Samirono Aeromovel TMII di pelataran gedung BPP TMII, Jakarta, Jumat (19/4/2019) sore. -Foto: Sri Sugiarti

Dalam sambutannya, Direktur Utama TMII, Tanribali Lamo, mengatakan, Aeromovel ini sudah berusia 40 tahun. Semula ada tiga rangkaian, terdiri dari enam gerbong.

“Dari gerbong itu yang bisa jalan ada dua rangkaian, empat gerbong. Yang dua gerbong kita gunakan untuk kanibalisasi. Jadi, karena sparepart-nya sudah tidak ada dan pabriknya juga sudah tutup. Akhirnya, harus kanibalisasi,” jelas Tanri.

Renovasi pergantian enzim aeromovel ini, dilakukan karena usianya sudah 40 tahun. Di Brazil, pabriknya pun sudah tutup. Kemudian mencoba mendatangkan pengusaha Cina untuk menangani kereta layang tersebut, namun tidak mampu. Kemudian konsultasi dengan ITB, dan mendapatkan saran untuk ke INKA.

“Hasil diskusi kami dengan Pak Roni (pengelola Aeromovel), semula mencari di Malang. Bisa tidak kereta ini ditarik oleh mobil bekas. Rupanya setelah ke Malang, tidak dapat juga. Akhirnya, dapatnya di INKA Madiun,” ujar Tanri.

Jadi, proses perbaikan Aeromovel ini seluruhnya menggunakan pola kereta api. Sehingga ,semuanya diganti dan yang bisa dipakai hanya kerangka utama.

“Dalamnya semua diganti, kursi diperbaiki, ber-AC, ada musik dan lampu. Jadi, kalau malam hari itu bisa kita manfaatkan secara optimal. Alhamdulillah, Ibu Tutut bisa meresmikan penggunaan kereta ini,” kata Tanri.

Peresmian Aeromovel ini dilakukan setelah tasyakuran HUT ke-44 TMII di Pendopo Agung Sasono Utomo. Namun sebelumnya, Putri Cendana ini terlebih dulu meninjau ruangan Sasono Langen Budoyo, yang telah rampung direnovasi, khususnya fasilitas kursi dan sofa.

Berlanjut, Tutut Soeharto meninjau Museum Indonesia, yang gedungnya berseberangan dengan Sasono Langen Budoyo. Di pelataran luar Museum Indonesia, kesenian tradisi Reog menyambut Tutut Soeharto. Gerak lincah para penari memukau perhatian putri Cendana.

Dalam peninjauan ini, putri sulung Presiden Soeharto yang didampingi Direktur Utama TMII, Tanribali Lamo, tidak masuk ke dalam museum tersebut.

Tanri menjelaskan, detail Museum Indonesia kepada Tutut Soeharto. Lalu, mereka melihat foto-foto bangunan museum yang telah direnovasi tersebut yang dipajang di luar.

Tiba akhirnya, mereka beswafoto di tangga masuk Museum Indonesia. Momen indah ini menjadi semangat keluarga besar TMII untuk terus melestarikan dan mengembangkan seni budaya bangsa.

Lihat juga...