hut

Tren Makanan Ekstra Pedas, Bahaya bagi Kesehatan

Editor: Satmoko Budi Santoso

PADANG – Makanan ekstra pedas seakan menjadi tren akhir-akhir ini. Berbagai jenis makanan yang hadir dengan rasa pedas tidak biasa. Hal tersebut ternyata dapat memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, Merry Yuliesday, mengatakan, gaya atau tren makanan ekstra pedas yang kini menghujani anak muda, lebih banyak memiliki dampak buruk, ketimbang dampak positif.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat Merry Yuliesday/Foto: M. Noli Hendra

“Makanan ekstra pedas ini jelas sekali dapat mengancam kerusakan usus. Kita contohkan saja, tangan yang memiliki kulit lebih tebal. Apabila tangan memegang cabai merah, maka rasa panas akan sangat terasa.

Sekarang bandingkan dengan usus yang memiliki struktur tipis sehingga akan sangat berbahaya apabila menjadikan makanan pedas jadi tren pula,” katanya, Jumat (19/4/2019).

Makanan ekstra pedas ini hadir di berbagai jenis makanan, seperti mie rebus yang memiliki tingkat kepedasan hingga level 5. Begitu juga untuk mie goreng, pical ayam, dan ayam goreng dengan cabai merah ekstra pedas.

Menurutnya, dampak apabila terlalu sering memakan makanan ekstra pedas, ada dua fase. Di fase pertama yang bisa dirasakan dalam waktu jangka pendek ialah diare. Namun dalam jangka panjang dampak terlalu suka makanan ekstra pedas dapat mengakibatkan usus kering, nyeri di perut, anus kram, dan banyak dampak lainnya yang disebabkan suka memakan makanan ekstra pedas.

“Untuk penyakit usus ini, sebenarnya termasuk 10 besar penyakit yang banyak dialami oleh masyarakat di Indonesia. Jadi melihat tren makanan ekstra pedas ini, perlu ada penyuluhan kepada masyarakat. Dokter dan para medis lainnya diharapkan dapat menyampaikan bahaya makan makanan ekstra pedas ini kepada masyarakat,” tegasnya.

Merry juga menyebutkan, ada beberapa hal yang perlu dikenali bagi banyak orang yang kemungkinan terjadi gejala penyakit usus.

Gejalanya itu bakal terjadi nyeri perut dan kram, mual dan muntah, diare, pendarahan, anus kram atau kejang pada otot, penurunan berat badan, demam dan kelelahan, berkurangnya nafsu makan.

Dari gejala tersebut, kata Merry, seiring waktu, peradangan pada lapisan usus menyebabkan luka. Dinding usus kemudian kehilangan kemampuan untuk mengolah makanan, limbah, dan menyerap air, sehingga menyebabkan diare.

Luka kecil berkembang di usus lalu menyebabkan sakit perut dan darah dalam tinja seseorang yang mengalaminya.

“Saya berharap betul kepada masyarakat terutama anak muda yang selama ini menganggap makanan pedas itu sebuah gaya-gayaan, sebaiknya hentikan kebiasaan itu. Ingat usus itu tidak tahan dengan makanan ekstra pedas. Pentingkanlah kesehatan, ketimbang sekadar gaya-gayaan,” imbaunya.

Sementara itu, salah seorang mahasiswi di Padang, Siska mengakui, bahwa kini makanan ekstra pedas tengah jadi tren di kalangan muda mudi. Bahkan di tempat-tempat yang bertuliskan makanan pedas, bakal ramai pembeli.

“Saya pernah coba makanan ekstra pedas seperti mie rebus dengan level 3. Rasanya itu benar-benar membakar bibir. Alasan kenapa saya coba, karena merasa memiliki tantangan untuk mencoba mencicipi makanan yang ekstra pedas itu,” ungkapnya.

Bahkan Siska mengaku, pertama kali saat mencoba makanan ekstra pedas itu, membuat kondisi tubuh jadi panas dalam dan mengakibatkan bibir pecah. Diare pun pernah dialaminya, kini setelah mengalami hal tersebut, dirinya tidak lagi mencicipi ekstra pedas hingga level 3 itu.

“Sebenarnya bagi kita masyarakat Sumatera Barat biasa makanan yang banyak pedas. Tapi rasa pedas masakan pada umumnya masih wajar, seperti rasa goreng ikan dan rendang. Kalau ekstra pedas itu benar ampun deh, bikin dower, tapi cukup menantang,” sebutnya.

Lihat juga...