‘Triple Burden’ di Indonesia Ancam Roda Perekonomian

Editor: Koko Triarko

Ditjen P2P Divisi Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan Robert Saragih (tengah)  saat menjadi pembicara pada diskusi Urban Farming di Jakarta, Kamis (11/4/2019) –Foto: Ranny Supusepa

JAKARTA – Masyarakat di Indonesia saat ini dinyatakan belum terlepas dari masalah triple burden. Yaitu, masih tingginya angka penyakit menular, semakin meningkatnya penyakit tidak menular serta munculnya penyakit yang sudah dianggap hilang dan munculnya penyakit baru. 

Ditjen P2P Divisi Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan, Robert Saragih, memaparkan, bahwa triple burden ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor.

“Kita bisa menyebutkan, bahwa triple burden ini disebabkan oleh lingkungan dan gaya hidup manusia,” kata Robert, usai diskusi ‘Urban Farming’ di Jakarta, Kamis (11/4/2019).

Menurutnya, indikasi triple burden muncul sekitar 10 tahun yang lalu, dan masih terus menjadi masalah besar.

“Contohnya, penyakit tidak menular. Sekarang ini didominasi oleh empat jenis penyakit, yaitu kanker dan kelainan darah, jantung dan pembuluh darah, diabetes dan obesitas serta penyakit paru kronik yang bukan disebabkan oleh TB,” urai Robert.

Sementara penyakit jenis baru, pun terus bermunculan. Contohnya, adalah varian influenza.

“Ancaman triple burden ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di skala global. Tapi efeknya terasa besar di Indonesia, karena rata-rata menghantam usia produktif. Dengan kata lain, penyakit ini akan mempengaruhi roda ekonomi,” kata Robert.

Saat masyarakat terpapar, maka akan tercipta beban ekonomi juga bagi penderita. Karena biaya yang dibutuhkan untuk berobat juga tidak kecil.

“Di sini pentingnya, langkah-langkah pengendalian penyakit. Yaitu, pencegahan, kewaspadaan dan respons. Pencegahan dalam artian tindakan preventif sebelum terkena penyakit. Seperti health promotionspesifik protection yaitu imunisasi, early diagnosis dan prompt treatment, disease limitation dan rehabilitasi,” papar Robert.

Lihat juga...