Tutut Soeharto Ajak Petani Ponu Terapkan Pertanian Terpadu

Editor: Makmun Hidayat

277

TIMOR TENGAH UTARA — Suasana hangat tercipta, manakala dialog interaktif antara putri Presiden kedua RI, HM Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana dan warga Ponu, Kecamatan Biboki Anleu, Timor Tengah Utara (TTU), berlangsung pada Jumat (12/4/2019).

Tutut Soeharto mengajak mereka naik ke panggung untuk menyampaikan aspirasi bagi perubahan Indonesia.

Seorang warga mengeluhkan sulitnya mencari pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. “Saya ini lulusan SMP, saat mau melanjutkan ke SMA, tidak ada biaya. Kini, sulit mendapatkan pekerjaan yang layak. Padahal saya butuh biaya untuk menyekolahkan anak ke jenjang lebih tinggi, jangan seperti saya,” katanya di hadapan Tutut Soeharto.

Mendengar keluhan itu, Tutut Soeharto memberikan solusi. Yakni Partai Berkarya akan menciptakan lapangan kerja yang banyak. Sehingga masyarakat Indonesia nantinya bisa bekerja, dan mendapatkan penghasilan yang layak.

“Insyaallah kami akan ciptakan lapangan kerja, bapak-bapak nantinya bisa bekerja dan menghasilkan uang untuk menyekolahkan anaknya,” ujarnya.

Ada juga yang mengeluhkan tentang pertanian, terkhusus dalam menggarap sawah. “Biaya membajak sawah dengan traktor itu mahal, sedangkan hasil panen tidak maksimal. Pupuk juga mahal,” ujar seorang petani.

Putri Cendana mengatakan, untuk menggarap sawah itu tentunya memang tidak harus dilakukan semua dengan traktor. Karena bisa juga dengan cangkul dan sapi. “Di sini ada yang punya sapi?,”tanya Tutut Soeharto.

Petani tersebut pun menjawab “Sapi punya dua ekor. Tapi di sini banyak yang punya sapi”.

Menurut Tutut Soeharto, jika di daerah ini banyak petani yang mempunyai sapi, maka, sapi-sapi tersebut bisa dikumpulkan. Kotorannya bisa diproses menjadi biogas, ampasnya untuk pupuk tanaman. Dan air kencingnya diproses menjadi pestisida.

“Biogas bisa dipakai untuk menggantikan listrik, menjalankan traktor dan memasak. Jauh lebih murah biayanya,” jelasnya.

Kalau semua sapi dikumpulkan, kotoranya bisa diproses tidak terbuang akan bermanfaat bagi para petani. Jadi kita harus bekerjasama atau gotong royong untuk lakukan itu,” ujarnya.

Jika kerjasama itu sudah terbangun, pihaknya akan mengirim ahli-ahli pertanian dari Saung Berkarya ke NTT. Mereka akan memberikan pelatihan bagaimana cara membuat biogas.

Sehingga nanti kata Tutut Soeharto, akan tercipta pertanian dan perternakan terpadu, yang semuanya untuk rakyat di daerah ini.

Selain itu juga akan diajarkan menanam sayuran dengan memanfaatkan pelataran rumah. Setiap rumah di satu desa itu menanam cabai di pot-pot. Begitu juga dengan desa lainnya, menanam tomat, misalnya. Sehingga setiap desa mempunyai kegiatan berbeda dalam pertanian, tidak saling menganggu tapi malah saling sinergi.

“Desa satu panen cabai, yang lain tomat. Tapi nanam padi tetap dilakukan, karena itu yang utama. Bisa jadi desa unggulan untuk desa lainnya. Jadi percontohan desa mandiri pangan dan energi,” pungkasnya.

Lihat juga...