Umat Katolik Stasi Pasuruan Gelar Penghormatan Salib

Editor: Koko Triarko

222

LAMPUNG – Ratusan umat Katolik di gereja Santo Petrus dan Paulus Penengahan, mengisi rangkaian Tri Hari Suci Paskah dengan ibadat Jumat Agung.

Yohanes Ngatijo Pokro, selaku pemimpin ibadat Jumat Agung, mengatakan, bagi umat Katolik, ibadat Jumat Agung dalam misteri penebusan Yesus Kristus menjadi salah satu peristiwa penting pada karya keselamatan Allah. Jumat Agung juga menjadi renungan bagi umat, bahwa maut bukanlah titik punah, melainkan suatu kemenangan.

Berdasarkan keyakinan tersebut, Gereja Katolik merayakan Jumat Agung yang dibagi dalam dua liturgi. Pertama, dilakukan ibadat sabda untuk menghidupkan iman Katolik akan kekuatan wafat Yesus, yang sudah dinubuatkan dalam kitab suci.

Kedua, dilakukan upacara penghormatan salib untuk memusatkan perhatian pada salib sebagai sumber kebahagiaan. Pada perayaan Jumat Agung tersebut, gereja juga hanya melakukan ibadat tanpa adanya Misa.

Yohanes Ngatijo Pokro juga menyebut, saat Jumat Agung, Gereja merenungkan waktu Kristus, Domba Kurban dikorbankan. Gereja merenungkan sengsara Tuhan dan Mempelainya, dan menghormati salib-Nya. Dalam kesempatan tersebut, umat merenungkan asal-usulnya dari luka sisi Kristus yang wafat pada salib, dan berdoa bagi keselamatan seluruh dunia.

“Sebelum ibadat Jumat Agung dimulai, tidak ada lagu pembukaan melambangkan perenungan akan sengsara Yesus dan dilanjutkan dengan doa permohonan untuk keselamatan negara, gereja dan seluruh umat manusia,” terang Yohanes Ngatijo Pokro, saat memimpin ibadat Jumat Agung di gereja Santo Petrus dan Paulus Penengahan, Jumat (19/5/2019).

Ibadat Jumat Agung, sebut Yohanes Ngatijo Pokro, tanpa dibuka dan diakhiri tanda salib, karena pada Jumat Agung umat mengenangkan pengorbanan Sang Anak Domba.

Umat diajak mengenangkan peristiwa salib itu sendiri. Ibadat terdiri dari Ibadat Sabda, penghormatan salib, tanpa perayaan komuni karena tidak ada imam atau pastor. Ibadat dimulai pada siang hari menjelang pukul 15:00 hingga petang, sesuai waktu wafat Yesus ribuan tahun silam.

Yohanes Ngatijo Pokro juga menekankan, bahwa Gereja Katolik tidak merayakan Misa pada hari Jumat Agung, namun Gereja mengadakan ibadat penghormatan salib atau Ibadat memperingati sengsara dan wafat Kristus.

Tidak adanya Misa Jumat Agung, karena tidak ada konsekrasi. Selain itu, bacaan pertama diambil dari kitab Nabi Yesaya 53:1-12, sebagai nubuatan akan kisah sengsara Yesus sebagai mesias yang harus menderita.

Selain nubuatan kisah sengsara Yesus Kristus dari kitab Yesaya, umat juga mendengarkan Injil Yohanes 18:1-19. Kisah sengsara Yesus tersebut dibacakan oleh lima petugas liturgi, dengan cara dinyanyikan atau dikenal dengan pasio.

Pada ibadat Jumat Agung pasio, yang kerap dibawakan dengan nyanyian juga kerap dibawakan dengan tablo atau drama kisah sengsara Yesus. Pasio yang dinyanyikan menjadi cara, agar umat lebih menghayati Injil yang dibacakan.

“Setahun sekali, Gereja merayakan ibadat Jumat Agung sehingga pasio bisa menjadi penghayatan untuk merenungkan misteri keselamatan melalui wafat Yesus Kristus,” beber Yohanes Ngatijo Pokro.

Rangkaian ibadat Jumat Agung tanpa penerimaan komuni kudus, dilanjutkan dengan prosesi penghormatan salib, yang dilakukan oleh seluruh umat dengan mencium salib yang disiapkan oleh petugas liturgi.

Tahun sebelumnya, prosesi penghormatan salib disi dengan tabur bunga pada salib Yesus. Tabur bunga yang dilakukan menjadi simbol umat yang ikut berduka atas wafat Yesus Kristus.

Tradisi penghormatan salib serta tabur bunga, hingga kini masih diteruskan oleh umat Katolik di Lamsel. Usai mengikuti ibadah Jumat Agung, umat Katolik melakukan tradisi mengunjungi makam keluarga.

Kunjungan ke makam keluarga yang sudah meninggal dilakukan dengan kegiatan bersih makam dan tabur bunga. Kegiatan mendoakan keluarga sebagai rangkaian penghormatan salib, sekaligus menyimbolkan harapan akan kebangkitan orang yang sudah mati bersama Kristus.

Rangkaian Tri Hari Suci Paskah yang dimulai dari Kamis Putih, Jumat Agung akan dilanjutkan dengan Sabtu Suci atau malam vigili Paskah. Puncaknya, umat Katolik akan merayakan Paskah kebangkitan Yesus Kristus pada Minggu Paskah.

Perayaan tri hari suci Paskah di Gereja Santo Petrus dan Paulus Pasuruan yang diikuti oleh ratusan umat tersebut, terlihat mendapat pengamanan dari anggota Polsek Penengahan.

Lihat juga...