hut

‘Urban Farming’ Bantu Dunia Cegah Perubahan Iklim

Editor: Koko Triarko

Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Drs.  Herizal,  M.Si -Foto: Ranny Supusepa

JAKARTA – Perubahan iklim yang terus menunjukkan gejala meningkat setiap tahunnya, bukan hanya menjadi masalah bagi Indonesia, namun juga bagi negara lainnya. Penelitian menyebutkan, semakin berkembang suatu negara, maka akan semakin meningkat pula tingkat pemanasan globalnya. Tapi dengan berperan aktif, harapannya masyarakat dunia akan mampu mencegah perubahan iklim. 

Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Drs. Herizal, M.Si., menyatakan pembangunan dan perubahan iklim merupakan suatu hal yang berbanding lurus.

“Jika kita mengkaitkan urbanisasi dengan tingkat polusi, maka bisa saya sampaikan, bahwa semakin tinggi tingkat pembangunan, maka akan mempengaruhi tingkat karbon untuk menjadi lebih tinggi,” kata Heriza,l saat menjadi pembicara dalam diskusi ‘urban farming sebagai solusi masalah perubahan iklim dan kualitas udara’, di Jakarta,  Kamis (11/4/2019).

Peningkatan polusi ini merupakan dampak dari jumlah orang, penggunaan energi dan tindakan pelepasan karbon.  Saat semakin banyak manusia yang tinggal dalam suatu kawasan, akan semakin banyak alat transportasi. Akan semakin banyak penggunaan energi maupun pengalihan lahan hijau menjadi bagian dari pertumbuhan.

“Dan, ini merupakan salah satu yang menyebabkan perubahan iklim,” urai Herizal.

Terkait dengan manfaat urban farming untuk mencegah perubahan iklim, Herizal menyatakan, bahwa urban farming bisa menjadi salah satu alternatif untuk membantu mencegah meningkatnya iklim dunia.

“Kalau kita melihat secara umum saja, tanaman itu bisa mengubah karbondioksida menjadi oksigen. Artinya, secara teknis tentu berpengaruh. Dan, jika dilaksanakan pada lokasi yang banyak, walaupun lahannya kecil, pasti mampu memberikan efek yang signifikan,” ucapnya.

Tapi, Herizal menekankan, bahwa urban farming bukan hanya satu-satunya cara. Mengkombinasikan urban farming dengan cara lain, diyakini akan mampu memberikan hasil yang lebih baik.

“Misalnya, membiasakan untuk hemat energi. Walaupun kita mampu membayar, tapi tetap hemat energi. Atau bagi kaum milenial, biasakan untuk menggunakan kendaraan bersama atau menggunakan transportasi umum. Jangan setiap orang bawa satu mobil,” papar Herizal.

Intinya, Herizal menyatakan, bahwa BMKG selalu mengajak semua pihak untuk berpartisipasi aktif dalam menjaga iklim. “Karena apa yang kita lakukan sekarang, akan berpengaruh pada generasi setelah kita,” tutupnya.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!