Usai Mencoblos, Nelayan di Lamsel Kembali Melaut

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Ratusan nelayan di pesisir timur Lampung Selatan, kembali melaut usai menunaikan hak pilihnya. Sujad, salah satu nelayan di dermaga Kramat, Desa Sumur, Kecamatan Ketapang, menyebut, sebagian nelayan hanya berisitirahat selama sehari, saat memberikan hak pilih di sejumlah tempat pemungutan suara (TPS).

Menurut Sujad, ratusan nelayan tangkap dengan perahu jukung, kapal bagan apung, bagan congkel, menggunakan hak pilih di tempat domisili.

Sujad, menyiapkan es balok untuk pengawet ikan saat melaut -Foto: Henk Widi

Sebagian nelayan bekerja di perairan Selat Sunda, mulai pulang ke rumah masing-masing sejak Selasa (16/4), selanjutnya kembali ke dermaga Kramat untuk kembali melaut. Sebagai bidak atau anak buah kapal bagan congkel, ia diminta kembali seusai melakukan pemungutan suara.

Meski berjarak puluhan kilometer dari dermaga, desa tempat tinggalnya bisa ditempuh hanya dalam waktu satu jam. Sekembalinya dari mengikuti Pemilu, Sujad dan sejumlah nelayan akan kembali melaut. Pasalnya, saat bulan gelap kondisi cuaca perairan Selat Sunda sangat mendukung untuk kegiatan menangkap ikan. Sekali melaut, ia bisa memperoleh lebih dari lima kuintal ikan yang akan dijual ke pasar ikan.

“Libur saat hari pemilihan umum sudah dilakukan sehari sebelumnya, dan sejak pagi sebagian nelayan sudah menyelesaikan hak dan kewajiban melakukan pemungutan suara, sehingga bisa kembali mencari ikan,” papar Sujad, saat ditemui Cendana News, Rabu (17/4/2019) petang.

Sujad menyebut, nelayan akan berangkat melaut sebelum matahari terbenam ke wilayah perairan Selat Sunda. Pada bulan gelap, nelayan berharap bisa memperoleh ikan teri, layur, cumi, tongkol, dengan menggunakan bagan congkel. Sejumlah nelayan dengan sistem pancing rawe dasar, juga bisa memperoleh ikan karang jenis kerapu, lapeh, kakap serta ikan kuniran.

Nelayan di wilayah tersebut, katanya, melakukan pengaturan waktu sehingga bisa tetap menjalankan hak memilih serta kembali bekerja mencari ikan.

Sujad juga menyebut, sebagian nelayan yang memiliki hak pilih di Dusun Kramat, hanya berjarak puluhan meter dari dermaga. Seusai melakukan pemungutan suara, sejumlah nelayan kembali memperbaiki alat tangkap, berupa jaring serta mengganti pancing sekaligus umpan.

Keuntungan menjanjikan melakukan aktivitas melaut saat bulan gelap, sebut Sujad, bisa dipergunakan untuk menutupi biaya operasional.

Namun ada sebagian nelayan yang belum beroperasi, karena menjadi anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS).

Selain di dermaga Kramat, sejumlah nelayan di dermaga Muara Piluk, Bakauheni, juga memilih kembali melaut usai menggunakan hak pilih.

Rohman dan Sobri, nelayan pencari lobster mengaku tetap menggunakan hak pilih sebagai warga negara. Kegiatan mencari lobster dengan menggunakan jaring dan perangkap, disebutnya masih dilakukan di sekitar pulau Rimau Balak, Kandang Balak serta Pulau Prajurit.

“Pemilihan umum sudah usai dan kewajiban serta hak sudah kami jalankan, namun sebagai nelayan, kebutuhan hidup harus dipenuhi dengan melaut,” beber Rohman.

Menurut Rohman, cuaca yang cukup baik, membuatnya bisa mencari ikan karang. Sebagian nelayan yang berlayar dengan menggunakan kapal bagan cumi, kerap melaut dalam waktu setengah bulan. Persediaan yang cukup akan bahan bakar, cold storage atau lemari pendingin, membuat nelayan bisa mencari ikan di laut dalam waktu lama.

Nelayan yang berlibur bertepatan dengan pemilu mulai kembali melakukan aktivitas melaut di perairan Selat Sunda. Rohman dan sejumlah nelayan lain mengaku tidak terlalu memperhatikan calon presiden dan wakil presiden, serta legislator serta senator yang terpilih.

Ia hanya berharap, siapa pun pemimpin negara Indonesia bisa memberi kesejahteraan bagi warga negara, terutama nelayan.

Lihat juga...