Usia Harapan Hidup Masyarakat di Indonesia Terus Meningkat

189
Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek saat pemaparan pada Rakerda Dinkes Sumsel di Palembang, Jumat (12/4/2019). (Foto: Ant)

PALEMBANG – Usia harapan hidup masyarakat Indonesia terus meningkat. Hal itu, diperoleh seiring perbaikan layanan kesehatan yang menyentuh di seluruh lapisan masyarakat.

Menteri Kesehatan Indonesia, Nila F. Moelek, mengatakan, usia rata-rata harapan hidup masyarakat Indonesia saat ini 71 tahun. Usia angka harapan hidup perempuan Indonesia 74 tahun dan laki-laki 69 tahun. “Usia harapan hidup laki-laki memang lebih pendek, mungkin faktor pola hidup kesehatanya,” ujar Nila F. Moeloek, di Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (12/4/2019).

Menurutnya, perbaikan layanan kesehatan berhasil menyentuh lapisan masyarakat terbawah. Hal itu sebagai dampak dari semakin mudahnya masyarakat mengakses dan biaya yang terjangkau. Hal itu, baik melalui pembiayaan BPJS maupun asuransi lain. Kemudahan akses tersebut, ditopang berbagai program pemerintah pusat, seperti Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) dan ribuan program inovasi berbagai daerah di Indonesia, seperti gerakan makan telur hindari stunting yang dimiliki Kota Prabumulih.

Tujuan program-program tersebut membentuk pola pikir masyarakat mengenai pentingnya kesehatan. Saat ini menurut Nila, meski usia harapan hidup meningkat, namun angka sadar kesehatan masyarakat masih rendah. “Angka keluarga sehat di Indonesia 16,8 persen, artinya dalam satu keluarga yang mengerti kesehatan hanya 1-2 orang, sisanya tidak menyadari pentingnya kesehatan, ini masih menjadi PR (pekerjaan rumah) bersama,” jelas Nila.

Tak hanya itu, meski usia harapan hidup meningkat, pada saat bersamaan beban akibat penyakit tidak menular ikut meningkat, bahkan terjadi secara drastis. Penyakit jantung dan tuberkulosis, kasusnya telah meningkat selama 25 tahun terakhir. Peningkatan tersebut didorong lingkungan dan pola makan tidak sehat. Tekanan darah tinggi, serta kebiasaan merokok yang masih banyak dilakukan, menjadi bentuk kegiatan tidak sehat yang masih dilakukan masyarakat.

Realita tersebut mensinyalir, akan semakin banyak masyarakat yang menginginkan sentuhan pelayanan kesehatan. Sebab, biaya berobat penyakit tidak menular nyatanya paling banyak menghabiskan anggaran BPJS. “Penyakit tidak menular tertinggi itu jantung, porsinya 51 persen, dan tahun lalu BPJS membayar Rp10,8 Triliun hanya untuk penanganan penyakit jantung,” tambahnya.

Dengan demikian, Kemenkes berupaya terus meningkatkan pemerataan pelayanan kesehatan, hingga ke wilayah sulit terjangkau. Upayanya dilakukan melalui beragam cara, seperti program ambulan motor di desa-desa, agar angka usia harapan hidup masyarakat terus meningkat.

Lihat juga...