Berburu Takjil di Toko Roti Tertua Purwokerto

Editor: Koko Triarko

PURWOKERTO – Berburu takjil saat bulan Ramadan, sering dilakukan masyarakat. Mulai dari jajanan tradisional hingga penjual takjil dadakan di pinggir-pinggir jalan, semua tak luput dari perburuan. Tak kecuali toko roti Go, toko roti tertua di Purwokerto, bahkan mungkin di Indonesia.

Toko roti ini selalu dipenuhi pembeli, terlebih pada saat menjelang berbuka puasa. Aroma roti serta deretan aneka roti yang dipajang menggugah selera pembeli. Yang paling laku di toko ini adalah roti pisang. Meskipun banyak bermunculan toko roti modern di Kota Purwokerto, namun Roti Go masih mempunyai banyak pelanggan setia.

Pemilik Roti Go, FX Pararto Widjaja (76), mengatakan, toko rotinya didirikan sejak 1898 oleh kakek-neneknya. Pararto merupakan generasi ketiga yang meneruskan bisnis keluarga tersebut.

Roti Go yang berada di pusat Kota Purwokerto selalu dipenuhi pengunjung, terlebih saat bulan puasa seperti sekarang ini. -Foto: Hermiana E. Effendi

“Usia toko ini sudah 118 tahun, dan lokasinya tidak pernah pindah, sehingga para pelanggan tidak bingung mencari-cari. Hanya saja, bentuk bangunan sudah mengalami beberapa kali renovasi, mengikuti perkembangan zaman dan ada peluasan toko juga,” terangnya, Sabtu (11/5/2019).

Roti Go terletak di pusat Kota Purwokerto, tepatnya di jalan Jenderal Soedirman, dekat perempatan lampu merah Pasar Wage. Toko mulai buka pukul 09.00 WIB dan tutup pada pukul 20.00 WIB. Namun, tak perlu khawatir, bagi masyarakat yang ingin membeli pada malam hari, ada gerobak roti yang terparkir tepat di depan toko. Dan, gerobak ini menjual aneka roti Go hingga dini hari.

“Jadi roti basah produksi kita, selalu habis pada hari itu juga, tidak ada roti yang djjual kembali keesokan harinya,” kata Pararto.

Pararto bertutur, toko roti ini didirikan oleh neneknya, Oei Pak Ke Nio, dan kakeknya, Go Kwe Ka. Sejak awal dibuka, toko ini selalu menggunakan bahan-bahan pilihan dan teknik pengolahan roti tradisional, yaitu pembakaran ovennya masih menggunakan kayu bakar. Sehingga menghasilkan aroma roti panggang yang alami dan cita rasanya tetap terjaga.

Pemilik Roti Go, FX Pararto Widjaja. -Foto: Hermiana E. Effendi

Bukan hanya alat-alat dan cara pengolahan yang tradisional. Bahan baku yang dipakai pun masih menggunakan bibit roti (biang) keluarga yang diwariskan secara turun temurun selama ratusan tahun. Bahkan, lebih uniknya lagi, mereka tidak menggunakan bahan pengembang, pengawet, pemanis atau bahan kimia lain yang biasa dipakai untuk membuat roti.

Meskipun sudah mendapat pangsa pasar sendiri, namun produksi roti Go tetap dibatasi. Dalam sehari, toko ini hanya memproduksi 50 kilogram tepung terigu. Terkait teknik pengolahan dan bahan baku yang tetap dipertahankan secara tradisional dan turun-temurun ini, Pararto mengatakan, di tengah gempuran toko roti modern, masyarakat berhak untuk mendapatkan alternatif pilihan lain.

Lihat juga...