hut

Beri Solusi Diare dengan Aplikasi Game, Mahasiswa UNEJ Raih Juara di Malaysia

Editor: Koko Triarko

JEMBER – Pengalaman dan pelajaran yang didapat kala mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN), sangat mendukung dalam perjalanan ‘akademis trio’ mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Jember, Yuli Lusiana Sari, Herlin Karismanigntyas, dan Ferry Fitriya Ayu Andira. 

Saat mengikuti KKN, mereka mengamati, masih banyak anak di pedesaan yang terkena penyakit diare. Sebagai calon dokter, insting mereka lantas tergerak untuk meneliti dan mencari solusi atas kasus ini. Ternyata, penyakit diare yang menyerang anak-anak diakibatkan gaya hidup tidak sehat.

Lantas terpikir di benak ketiganya, untuk membuat aplikasi game yang mampu memberikan pemahaman akan penyakit diare yang diberi nama Komandan H alias “Kenali dan Obati Masalah Diare Anak Dengan Herbal”.

Berkat ‘Komandan H’, mereka bertiga meraih medali emas di ajang International Conference On Recent Advances in Medical Science di Malaysia.

“Kebetulan saya mendapatkan lokasi KKN di Jember, sementara Herlin di Asembagus, yang memiliki permasalahan yang sama, yakni banyak anak yang kena diare,” tutur Yuli Lusiana Sari, memulai ceritanya saat ditemui Cendana News, di Kampus FK UNEJ, Jumat (31/5/2019).

Menurut Yuli, begitu panggilan akrabnya, penyakit diare berkembang karena anak-anak masih buang air sembarangan, mandi di sungai yang kotor, makan tanpa cuci tangan terlebih dahulu, atau makan jajanan yang tidak bersih.

“Lalu, muncul pemikiran bagaimana mendidik mereka agar paham mencegah penyakit diare, tapi dengan medium yang menyenangkan. Akhirnya, muncul ide menggunakan aplikasi game yang umumnya disukai anak-anak,” timpal Herlin Karismaningtyas.

Aplikasi game itu kemudian mereka namakan Komandan H.

“Seringnya masyarakat meminum obat antibiotik jika terkena diare, padahal tidak semua penyakit diare harus diobati dengan antibiotik. Karena jika pengobatan diare dengan antibiotik tidak terkontrol, bakal mengakibatkan resistensi. Di lain sisi, penyakit diare sering diremehkan, padahal jika pasien sampai mengalami dehidrasi, berpotensi membawa kematian,” kata  Ferry Fitriya Ayu Andira.

Ketiganya akhirnya memilih pengobatan herbal untuk pengobatan diare, mengingat sebenarnya obat untuk diare sudah cukup tersedia di alam Indonesia, seperti kunyit, lengkuas, daun jambu biji dan lainnya.

Di dalam aplikasi game ‘Komandan H’, anak-anak diajak mengenal apa itu penyakit diare, tanda-tanda penyakit diare, cara menangani penyakit diare hingga cara meramu obat herbal untuk penyembuhan penyakit diare.

Aplikasi game ‘Komandan H’ yang mereka gagas kemudian dicoba pada siswa SDN 02 Tegalgede, Jember. Hasilnya, banyak siswa yang tertarik memainkan aplikasi game ini, apalagi bisa diatur akan bermain sendiri atau berkelompok.

“Komandan H kami susun seperti permainan monopoli. Siswa atau kelompok siswa berlomba menuju garis akhir dengan terlebih dahulu menjawab soal yang diberikan secara bertahap,” ungkap Yuli.

Hasilnya, menggembirakan. Banyak siswa yang tertarik memainkan ‘Komandan H’, sehingga diharapkan pengetahuan mereka akan penyakit diare pun muncul. Termasuk pengetahuan meramu obat herbal untuk penyakit diare.

Hebatnya karya ketiganya yang diberi judul “The Impact of Conseling Using “Komandan H” Educational Game Through Gadgets to Children’s Knowledge and Interest of Herbal Medicine for Diarrhea at 02 Tegalgede Elementary School, Sumbersari Distric, Jember Regency, Indonesia”, menyabet medali emas dalam ajang yang digelar oleh The International Institute of Engineers and Researcher (IIER) Malaysia pada 18 dan 19 Mei 2019.

Trio mahasiswa FK Universitas Jember ini menyisihkan peserta lain dari Cina, Thailand, Malaysia, dan negara Asia lainnya.
Untuk menyelesaikan penelitian ini, ketiga mahasiswa FK Universitas Jember yang tengah menjalani kesibukan program Ko-Assistensi ini membutuhkan waktu tiga bulan.

Untungnya, ketiganya sudah terbiasa meneliti, sebab tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penelitian SRCR FK Universitas Jember. Sejak tergabung dalam UKM Penelitian SRCR kemampuan meneliti mereka semakin terasah.

“Menurut dewan juri, penelitian kami dipandang pantas mendapatkan medali emas karena aplikatif dan solutif, sehingga bisa disebarluaskan,” kata Herlin, diiyakan oleh kedua koleganya.

Lihat juga...