hut

Bukit Indah Suguhkan Bentang Alam Ujung Sumatra

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Saat libur akhir pekan selama Ramadan, bersosialisasi bersama kawan dan kerabat sambil menikmati pemandangan alam menjadi pengisi waktu luang. Lokasi strategis dekat dengan tempat tinggal, pun menjadi pilihan warga Bakauheni, Penengahan dan Ketapang di Lampung Selatan (Lamsel).

Salah satu spot yang kerap dikunjungi masyarakat sejak awal Ramadan 2019/1440 Hijriah adalah Bukit Indah. Bukit ini merupakan salah satu dataran tinggi di ujung selatan pulau Sumatra yang berhadapan langsung dengan Selat Sunda.

Dikenal dengan sebutan Bukit Blok M, bukit tersebut memiliki pemandangan ke segala arah. Sejauh mata memandang 360 derajat, bentang alam ujung Sumatra terlihat sangat indah, terlebih saat cuaca cerah tanpa mendung.

Jimi, remaja asal Bakauheni menyebut, Bukit Indah merupakan salah satu bukit yang berada di tepi Jalan Lintas Sumatra (Jalinsum). Sebagai bagian dari rencana pemasangan reklame, akses naik ke atas bukit dibuka dengan alat berat.

Dampak positifnya, semula bukit yang hanya terjangkau dengan berjalan kaki tersebut mulai bisa dilalui motor dan mobil. Meski masih jalan tanah merah, akses bisa dilalui. Namun, jika hujan melanda, jalan akan menjadi licin.

Jimi (paling kiri) bersama remaja lain asal Bakauheni berfoto di atas Bukit Indah dengan pemilihan latar belakang Menara Siger dan Selat Sunda -Foto: Henk Widi

“Awalnya hanya pekerja pemasang reklame yang naik ke Bukit Indah. Tetapi, mulai awal Ramadan banyak warga naik ke bukit ini dan menjadi spot kekinian bagi remaja dan masyarakat di Lamsel, saat pagi hari ketika libur dan sore hari untuk menikmati keindahan alam dari ketinggian,” terang Jimi, Minggu (19/5/2019).

Bukit Indah, menurut Jimi, bisa digunakan untuk melihat bentang alam bukit gamping di sisi timur lokasi berdirinya Menara Siger. Menara berbentuk mahkota sebagai ikon Lampung terlihat berwarna kuning keemasan, saat fajar menyingsing. Para remaja yang melakukan kegiatan olah raga jalan kaki pada hari biasa, kerap memanfaatkan Bukit Indah untuk melihat matahari terbit atau sunrise di balik Menara Siger.

Pemandangan kapal-kapal yang berlabuh di Bakauheni dan berlayar menuju Merak, juga jelas terlihat di sisi timur.

Selain bisa melihat ke sisi timur dengan sajian mentari terbit di balik Menara Siger, pemandangan pulau kecil terluar, di antaranya Kandang Balak, Kandang Lunik, Prajurit, Sangiang, bisa dilihat di sisi selatan. Lalu lalang kendaraan di Jalinsum dan Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS) juga terlihat seperti mainan saat dipandang dari ketinggian.

Pada sisi barat perbukitan di Bakauheni yang dibelah akses jalan tol, juga terlihat menghijau berpadu hamparan sawah, perkampungan dan laut. Kala senja, perbukitan tersebut menjadi pemandangan menarik saat mentari terbenam.

Pada sisi utara, dari atas Bukit Indah, perbukitan juga masih menjadi pemandangan berpadu dengan perkampungan warga Bakauheni. Jadilah Bukit Indah menjadi destinasi alternatif di Bakauheni yang terus dikunjungi warga setiap hari, terutama pagi dan sore hari selama bulan puasa.

Jimi mengatakan, kunjungan pada siang hari juga kerap dilakukan warga, meski tidak seramai pagi serta sore hari. Selain berjalan kaki, warga kerap menggunakan kendaraan roda dua pada bukit dengan ketinggian sekitar 200 meter di atas permukaan laut tersebut.

Aksan, salah satu rekan Jimi, menyebut Bukit Indah kerap dimanfaatkan remaja untuk swafoto. Latar belakang bentang alam yang menarik menjadikan remaja memilih foto di Bukit Indah untuk diunggah di media sosial Facebook dan Instagram.

Aksan bahkan menyebut, lokasi tersebut cocok untuk kegiatan fotografi aerial menggunakan drone berkamera. Sejumlah remaja yang menyukai fotografi menggunakan Bukit Indah untuk vloging.

“Tempatnya cukup indah, jadi bisa jadi lokasi yang direkomendasikan untuk vloging bersama kawan atau untuk diunggah di Instagram,” beber Aksan.

Santi (kiri) dan ibu rumah tangga lain menikmati suasana Bukit Indah, Bakauheni -Foto: Henk Widi

Keindahan Bukit Indah tersebut juga diakui Santi, warga Bakauheni. Bersama ibu rumah tangga lain, ia mengaku kerap naik ke bukit tersebut saat pagi dan sore hari. Namun lebih sering datang pada sore hari, menunggu waktu berbuka puasa.

Kegiatan menunggu waktu berbuka puasa atau ngabuburit dengan mengunjungi Bukit Indah, kerap dilakukan warga seperti dirinya sejak dua pekan terakhir.

“Lokasinya masih cukup alami, karena awalnya merupakan ladang pertanian jagung dan pisang, sehingga masih gratis naik ke Bukit Indah,” terang Santi.

Santi menyebut, rekreasi murah meriah di atas Bukit Indah menjadi alternatif selama bulan Ramadan. Selain mudah dijangkau, lokasi tersebut menyajikan bentang alam ujung Sumatra. Mengajak anak yang masih duduk di bangku SD, sekaligus bisa memperlihatkan pulau Jawa di kejauhan, kapal-kapal ferry, kapal kargo dan berbagai jenis kapal di Selat Sunda. Ia berharap, Bukit Indah bisa menjadi destinasi wisata baru di Bakauheni, seperti Menara Siger.

Bukit yang semula menyatu dengan bukit di sisi barat tersebut, telah dibelah menjadi dua untuk pembangunan jalan tol. Meski bukit tersebut merupakan milik salah satu pemodal, namun warga di sekitar Bakauheni berharap bisa dikembangkan sebagai destinasi baru dengan wahana saung, tempat kuliner dan spot foto.

Sebab, menurut Santi, selama ini Bakauheni identik dengan Menara Siger serta pelabuhan Bakauheni. Keberadaan Bukit Indah bisa menjadi spot rekreasi kekinian bagi masyarakat di Lampung Selatan.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!