Bulan Purnama, Nelayan di Lampung Selatan Istirahat Melaut

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Ratusan nelayan tangkap di perairan Lampung Selatan memilih istirahat melaut dalam sepekan terakhir. Bulan purnama menjadi alasan nelayan memilih untuk tidak melaut.

Rudi Prakoso, nelayan tangkap di dermaga Muara Piluk – Foto Henk Widi

Rudi Prakoso, nelayan tangkap di dermaga Muara Piluk menyebut, istirahat melaut dilakukan karena nelayan tangkap pancing rawe dasar dengan perahu kasko, menangkap ikan di malam hari. Saat bulan purnama, ikan di perairan sulit ditangkap.

Selain itu akibat bulan purnama, gelombang perairan cukup tinggi sehingga bisa membahayakan. Sebagai pengisi kegiatan, Rudi Prakoso memilih memperbaiki perahu dan alat tangkap seperti jaring, pancing, dan mesin perahu. Jika tidak ada peralatan yang perlu diperbaiki, nelayan memilih pulang ke kampung halaman. Masa istirahat melaut bagi nelayan bagan congkel, rawe dasar, dipastikan akan berlangsung hampir tiga pekan.

Selain istirahat karena bulan purnama, nelayan melakukan aktivitas ngebabang, yaitu rutinitas nelayan pulang kampung. Sembari istirahat karena hasil tangkapan minim, anak buah kapal atau disebut bidak, pulang ke keluarga. Beberapa bidak banyak yang memilih baru akan kembali setelah Idul Fitri 1440 H. “Kondisi alam. Bulan purnama nelayan memilih tidak melaut karena hasil tangkapan minim. Kalau tetap memaksakan, hanya akan menghabiskan biaya operasional terutama bahan bakar minyak,” terang Rudi Prakoso kepada Cendana News, Senin (20/5/2019).

Nelayan menghindari bulan purnama, karena cara menangkap ikan menggunakan lampu. Ikan yang ditangkap jenis teri, cumi dengan bagan congkel yang biasanya mengandalkan masa bulan mati, sehingga ikan mendekat ke lampu tenaga diesel yang disiapkan. Sebaliknya saat bulan purnama, cahaya yang berlebih mengakibatkan ikan sulit ditangkap. Jika langit tidak mendung, hasil tangkapan dipastikan sulit diperoleh nelayan bagan congkel.

Beberapa nelayan yang memiliki kebun kakao atau pisang, memilih untuk sementara waktu merawat tanaman. Rudi Prakoso menyebut, Dia masih tetap berada di dermaga untuk melakukan perbaikan mesin perahu kasko miliknya. Sebagian nelayan yang masih melaut merupakan warga di sekitar Bakauheni dengan perahu ketinting. “Saat bulan purnama masih ada sebagian nelayan tradisional yang memancing dengan sistem rawe dasar meski hasil kurang maksimal,” terang Rudi Prakoso,

Nelayan asal Kenyayan, Jaelani, menyebut, memilih melaut di sekitar pulau Kandang Balak. Meski mempergunakan perahu jenis ketinting, Dia masih memperoleh hasil tangkapan. Jenis ikan yang ditangkap meliputi Simba, Kuniran, Lemuru dan Lapeh. Ikan ikan karang dasar tersebut masih bisa dipancing menggunakan rawe dasar. Namun, hanya sedikit nelayan tradisional yang melaut akibat bulan purnama.

Jenis  ikan karang dijual kepada pemilik usaha kuliner di sekitar Jalan Lintas Sumatera. Pada kondisi normal, pasokan ikan diperoleh dari nelayan bagan apung dan bagan congkel. Sulitnya memperoleh tangkapan ikan, membuat harga saat bulan purnama mengalami kenaikan. “Harga ikan naik meski tidak signifikan, karena pemilik usaha kuliner sudah tahu sulitnya memperoleh ikan saat bulan purnama,” pungkas Zaelani.

Lihat juga...