hut

Cacar Monyet Ditandai Kulit Melepuh Berisi Cairan Bening

Seorang petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan mengoperasikan alat pemindai panas tubuh di terminal kedatangan internasional Bandara Sultan Syarif Kasim II di Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (14/5/2019). Otoritas Bandara Sultan Syarif Kasim II menyatakan alat pemindai panas tubuh sudah diaktifkan untuk memantau penumpang dari Singapura dan Malaysia yang berpotensi terjangkit virus cacar monyet (monkeypox). (Ant)

JAKARTA – Penyakit menular monkeypox atau cacar monyet, mirip dengan penyakit cacar lainnya. Salah satu tandanya, kulit melepuh berisi cairan bening atau nanah.

Gejala awal yang timbul berupa demam, sakit kepala hebat, pembesaran kelenjar getah bening (limfadenopati), nyeri punggung, nyeri otot dan lemas. Masa inkubasi atau masa dari terinfeksi hingga timbulnya gejala biasanya enam mencapai 16 hari, namun juga bisa antara lima hingga 21 hari.

Gejala akan berlanjut pada munculnya ruam kulit bagian wajah, kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya. Ruam ini berkembang mulai dari bintik merah seperti cacar (makulopapula), lepuh berisi cairan bening, lepuh berisi nanah, kemudian mengeras. Biasanya diperlukan waktu hingga tiga minggu sampai ruam tersebut menghilang.

Monkeypox merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri, dengan gejala yang berlangsung selama 14 hingga 21 hari. Kasus yang parah, lebih sering terjadi pada anak-anak, serta terkait dengan tingkat paparan virus, status kesehatan pasien, dan tingkat keparahan komplikasi.

Kasus kematian penyakit ini bervariasi namun kurang dari 10 persen kasus yang dilaporkan, sebagian besar di antaranya adalah anak-anak. Secara umum, kelompok usia yang lebih muda lebih rentan terhadap penyakit Monkeypox.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono, menegaskan monkeypox hanya dapat didiagnosis melalui pemeriksaan laboratorium. “Tidak ada pengobatan khusus atau vaksinasi yang tersedia untuk infeksi virus Monkeypox. Pengobatan simptomatik dan suportif dapat diberikan untuk meringankan keluhan yang muncul,” tandasnya.

Monkeypox pernah menjadi kejadian luar biasa (KLB) di beberapa wilayah. Pada 1970 terjadi kejadian luar biasa pada manusia pertama kali di Republik Demokratik Kongo. Di 2003, dilaporkan kasus di Amerika Serikat akibat riwayat kontak manusia dengan binatang peliharaan prairie dog yang terinfeksi oleh tikus Afrika yang masuk ke Amerika.

Di 2017 terjadi kejadian luar biasa di Nigeria. “Bulan Mei 2019 dilaporkan seorang warga negara Nigeria menderita Monkeypox, saat mengikuti lokakarya di Singapura. Saat ini pasien dan 23 orang yang kontak dekat dengannya diisolasi untuk mencegah penularan lebih lanjut,” jelas Anung.

Sebelumnya, Kementerian kesehatan memastikan, belum menemukan kasus monkeypox di Indonesia. Masyarakat diminta tidak panik, namun tetap harus mewaspadainya. (Baca: https://www.cendananews.com/2019/05/kasus-monkeypox-belum-ditemukan-di-indonesia.html) (Ant)

Lihat juga...