hut

Cegah Penularan Penyakit Hewan, Karantina Lampung Perketat Pengawasan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Potensi penyakit zoonosis atau infeksi yang ditularkan antara hewan pada manusia dan sebaliknya, Karantina Lampung perketat pengawasan. Salah satu potensi penyakit zoonosis yang mendapat perhatian berasal dari daging celeng atau babi hutan.

Drh. Anak Agung Oka Mantara, Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan (Kasi Wasdak) BKP Kelas I Bandar Lampung menyebut dalam kurun waktu empat bulan di tahun 2019 sebanyak 6,2 ton daging celeng tanpa dokumen diamankan.

Drh. Anak Agung Oka Mantara, Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandar Lampung – Foto: Henk Widi

Penahanan terhadap daging celeng tanpa dokumen tersebut merupakan upaya mencegah penularan penyakit zoonosis. Sebab selama ini daging celeng hidup liar dengan belum adanya jaminan higienisitas dan sanitasinya saat proses pemotongan dan pengolahan daging.

Potensi penyakit swine influenza, bakteri yang muncul dari daging celeng bahkan bisa membahayakan bagi manusia. Terlebih daging celeng yang selama ini dikirim dari Pulau Sumatera ke Pulau Jawa kerap tidak disertai dokumen sertifikat veteriner dari daerah asal.

Koordinasi BKP Lampung, Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Bakauheni disebut Drh. Anak Agung Oka Mantara, berhasil mengamankan daging celeng sebanyak 4 ton.

Pengamanan pada akhir April tersebut dilakukan saat kendaraan colt diesel bernomor BG 8997 YA asal Palembang tujuan Solo akan menyeberang melalui pelabuhan Bakauheni. Setelah dilakukan pemeriksaan pengemudi bernama Hermanto tidak bisa menunjukkan dokumen.

“Berdasarkan uji laboratorium fast pig test terhadap sampel daging celeng yang diperiksa daging tersebut tidak layak konsumsi bahkan sebagian mengalami pembusukan karena alat angkut tidak memakai kendaraan berpendingin,” terang Drh. Anak Agung Oka Mantara saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (16/5/2019).

Penahanan terhadap pengemudi, barang bukti pengiriman daging celeng sebanyak 4 ton tersebut karena ada sejumlah pelanggaran.

Dalam kasus pengiriman daging celeng pelaku melanggar UU Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Tumbuhan Ikan serta pasal 5 ayat 1, 2, 3 dan PP nomor 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan.

Kualitas daging yang busuk diakuinya sangat membahayakan manusia apabila dikonsumsi dan tidak ada standar kesehatan masyarakat.

Sesuai dengan standar kesehatan masyarakat veteriner daging layak konsumsi harus memenuhi unsur Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH). Selain itu daging babi ilegal yang dikirim tersebut pelanggaran terhadap hak konsumen untuk mendapatkan pangan yang sehat dan terjamin halal.

Sebab daging babi ilegal dapat menimbulkan keresahan sosial dikarenakan kemungkinan digunakan sebagai oplosan daging sapi yang dijual kepada masyarakat yang sebagian besar adalah Muslim.

Ia menyebut  daging celeng diolah secara tidak sempurna atau disamarkan dengan bahan makanan yang tekstur dagingnya sudah tidak terlihat. Bahan makanan tersebut diantaranya dalam bentuk kornet, bakso atau sosis dapat menyebabkan ancaman penyakit bersifat zoonosis.

Penyakit tersebut bisa menyerang hingga otak manusia apalagi telah sengaja dicampur dengan produk lain sehingga kehalalan menjadi perhatian penting.

Pihak Karantina Lampung disebut Drh. Anak Agung Oka Mantara telah memberikan kesempatan sampai 3 hari untuk hadir memenuhi persyaratan. Kantor Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandar Lampung, petugas menerbitkan surat perintah penahanan KH 8A No.2019.1.1103.0.K8A.K.013604.

Daging celeng yang ditahan selanjutnya disimpan di dalam cold storage milik BKP Kelas I Bandar Lampung hingga diputuskan untuk dimusnahkan.

Saat ini pelaku pengiriman daging celeng tersebut dalam tahap penyidikan terhadap pelanggaran UU No 16 Pasal 6 ayat a dan c Pasal 9 ayat 1 junto pasal 31 ayat (1) dan (2) tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan dengan ancaman pidana 3 tahun dan denda sebesar Rp150juta.

Hasil laboratorium sebagai kajian ilmiah dan sebagai dasar pemusnahan.

“Pelaku yang diamankan sudah dalam tahap penyidikan oleh karantina sekaligus tahap untuk sidang,“ beber Drh. Anak Agung Oka Mantara.

Karantina Lampung disebutnya terus melakukan pengawasan perlalulintasan di pintu masuk dan keluar pulau Sumatera. Sepanjang bulan ramadan hingga menjelang Idul Fitri pengawasan tersebut diilakukan di pintu masuk dan keluar pelabuhan Bakauheni.

Selain itu pengawasan juga dilakukan di Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Sebab permintaan akan komoditas pertanian dan hewan bisa menjadi celah bagi pelaku penyelundupan komoditas tanpa dokumen.

Koordinasi intelejen karantina dan pihak kepolisian diakuinya terus ditingkatkan untuk melindungi konsumen.

Lihat juga...