hut

Cuaca Panas Picu Naiknya Penjualan Buah Segar

Editor: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sejumlah pedagang buah segar di Lampung Selatan (Lamsel) mendapatkan permintaan lebih banyak dibanding puasa sebelumnya.

Kuwadi (39) salah satu pedagang buah menyebut, ia menjual beberapa jenis buah segar yang kerap diminati warga saat bulan suci ramadan. Peningkatan permintaan buah segar diakuinya karena pada saat bulan puasa temperaturnya sudah semakin tinggi mencapai 30 hingga 32 derajat celcius.

Sebagian warga memilih membeli buah segar untuk antisipasi agar jangan mengalami dehidrasi. Bulan suci ramadan berbarengan dengan musim kemarau disebut Kuwadi memberi dampak positif bagi pedagang buah dan minuman segar.

Pembeli buah segar diakui Kuwadi umumnya merupakan warga yang akan berbuka serta pedagang kuliner menu berbuka puasa (takjil). Bahan es buah berupa pepaya, melon, semangka dan timun suri membuat ia menyiapkan stok banyak.

Beberapa jenis buah segar yang disediakan oleh Kuwadi meliputi timun suri, jeruk, melon madu, alpukat, buah naga, semangka dan buah segar lain. Beberapa jenis buah diakuinya sengaja dipajang di lapak yang berada di tepi jalan, sebagian disimpan di ruang khusus agar tidak cepat layu.

Sehari berjualan buah segar, ia bisa menjual puluhan kilogram buah berbagai jenis. Penjualan buah saat ramadan sebelumnya dilakukan dengan berkeliling memakai motor namun ramadan kali ini ia memilih membuat lapak di tepi jalan.

“Saya memilih lokasi yang strategis tempat perlintasan warga dan terbukti cukup meningkatkan jumlah buah segar yang saya jual. Pembeli biasanya mulai banyak saat siang hingga sore mendekati waktu berbuka puasa,” terang Kuwadi saat ditemui Cendana News, Rabu (8/5/2019).

Harga buah segar yang dijual Kuwadi diakuinya rata-rata cukup terjangkau bagi masyarakat. Beberapa buah segar didatangkan dari wilayah Kecamatan Kalianda, Sragi, Palas dan Bakauheni langsung dari petani.

Saat pagi hari ia kerap membeli buah segar dari petani dan mulai berjualan siang hari hingga sore hari. Bermodalkan uang Rp4 juta ia membeli sejumlah buah segar yang diminati masyarakat. Sebab sebagian buah ditanam untuk dijual saat bulan ramadan.

Buah semangka jenis inul berbentuk lonjong dijual seharga Rp6.000 hingga Rp8.000 per kilogram. Buah jeruk peras dijual Rp10.000 per kilogram, buah melon madu dijual Rp15.000 per kilogram, buah timun suri Rp7.000 per kilogram, buah alpukat Rp10.000 per kilogram, buah naga Rp20.000 per kilogram, pepaya Rp5.000 per kilogram, kelapa muda dijual Rp5.000 per butir.

Beberapa jenis buah segar yang dijual diakui Kuwadi kerap dijadikan untuk dimakan atau dijadikan es buah.

“Beberapa jenis buah segar sangat cocok untuk dibuat menjadi es koktail untuk hidangan menu berbuka puasa,” terang Kuwadi.

Kuwadi menyebut selama berjualan buah segar ia kerap mendapatkan omzet hingga Rp6 juta per bulan. Selain dari petani pembudidaya buah segar sebagian buah berasal dari kebun yang ditanam sang istri.

Jenis tanaman buah yang ditanam sendiri diantaranya kelapa muda, timun suri dan pepaya. Cara tersebut diakuinya dilakukan untuk menekan modal membeli buah segar dari petani. Bisnis jual beli buah segar diakuinya sudah dijalankan selama lima tahun.

Kondisi cuaca panas saat memasuki bulan ramadan diakui pedagang buah lain bernama Sutrisno. Ia menyebut menjual buah timun suri berbagai ukuran untuk kebutuhan berbuka puasa.

Sutrisno (berkaos merah) berjualan timun suri di Kalianda selama bulan ramadan – Foto: Henk Widi

Timun suri sebanyak ratusan buah dengan berat mencapai tiga kuintal dijual dengan membuka lapak.

Sutrisno menyebut berjualan pada tiga lokasi di kota Kalianda dibantu sang anak dan istri. Berjualan pada tiga lokasi membuat potensi dilirik pembeli cukup besar dibanding hanya pada satu lokasi.

Penjualan dengan memilih lokasi berbeda menurutnya lebih efektif. Sebanyak tiga kuintal dijual masing-masing satu kuintal oleh sang istri dan anak.

Pusat keramaian yang terpecah saat bulan ramadan diakui Sutrisno memungkinkannya mempercepat penjualan. Pada tiga lokasi tempat berjualan ia menyebut tingkat penjualan hampir merata. Pada awal ramadan ia mampu menjual sebanyak 20 hingga 30 kilogram buah timun suri.

Peluang usaha musiman berjualan timun suri diakui Sutrisno menjadi usaha sampingan karena saat pagi ia bekerja sebagai tukang ojek. Harga per kilogram timun suri disebutnya dipatok seharga Rp6.000 hingga Rp8.000 tergantung ukuran.

Dengan asumsi rata-rata per kilogram seharga Rp6.000 ia menyebut bisa mengantongi omzet Rp500 ribu. Pasalnya dalam proses penjualan beberapa buah timun suri cepat mengalami pembusukan. Imbasnya sebagian buah tidak laku dijual.

“Timun suri banyak dipilih oleh masyarakat karena memiliki khasiat mencegah panas dalam serta sangat cocok untuk dibuat menjadi es buah,” beber Sutrisno.

Sutrisno menambahkan, kondisi cuaca yang cukup panas memasuki bulan suci ramadan menjadi berkah baginya. Jika pada bulan puasa sebelumnya sehari hanya bisa menjual sekitar 20 kilogram timun suri, kini ia bisa menjual hingga 30 kilogram.

Usaha musiman berjualan buah disebutnya harus pandai memanfaatkan peluang. Sebab dengan kondisi cuaca yang panas buah segar semakin diminati masyarakat.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!