Dari Memelihara Tikus, Suparno Hidupi dan Sekolahkan 5 Orang Anak

Editor: Mahadeva

Tikus-tikus peliharaan Sumarno ditempatkan dalam sebuah kandang yang berada di samping rumahnya, Senin (20/5/2019) - Foto: Jatmika H Kusmargana

YOGYAKARTA – Siapa sangka, lelaki asal Bantul ini, mampu menghidupi seorang istri dan kelima anaknya hanya dari memelihara dan membiakkan tikus. Binatang yang selama ini kerap dianggap sebagai hama menjijikkan dan sumber penyakit. 

Dialah Suparno (52), seorang pembudidaya tikus putih asal Dusun Dadapan, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di rumahnya, di Jalan Parangtritis KM 8, bapak lima orang anak tersebut, memelihara ratusan bahkan ribuan tikus.

Kegiatan tersebut telah dilakukan sejak 2004 lalu. Selama kurang lebih 15 tahun lamanya, Dia menjual tikus putih hasil peliharaannya untuk keperluan binatang percobaan/penelitian di kampus-kampus. Termasuk juga, untuk memenuhi pasokan kebutuhan makanan binatang peliharaan pemangsa atau reptil seperti ular, kadal, buaya, atau burung elang dan burung hantu di berbagai komunitas.

“Dulu ada kenalan mahasiswa yang pelihara tikus untuk keperluan penelitian. Setelah lulus dia lalu balik ke kampung halaman di luar Jawa. Karena tidak ada yang mengurus, saya lalu meneruskan memelihara tikus-tikus itu hingga akhirnya fokus menjadi pembudidaya sampai sekarang,” katanya saat ditemui Cendananews, Senin (20/05/2019).

Suparno (52), pembudidaya tikus putih asal dusun Dadapan Timbulharjo Sewon Bantul Yogyakarta – Foto: Jatmika H Kusmargana

Lelaki yang sudah sangat dikenal sebagai pionir pembudidaya tikus putih di Yogyakarta. Sampai saat ini telah memiliki puluhan bahkan ratusan pelanggan di berbagai daerah. Umumnya, pelangan Suparno adalah mahasiswa kedokteran ataupun farmasi di universitas-universitas yang ada di tanah air.

Mulai dari kampus-kampus di pulau Jawa, Medan, Palembang, Bangka-Belitung, Pontianak, Banjarmasin, Makasar, Ambon, hingga Manado, banyak yang menjadi pelanggannya.  “Awalnya pelanggan saya memang hanya mahasiswa di Jogja saja. Kenapa bisa meluas sampai ke berbagai daerah? Ya, karena banyak mahasiswa yang awalnya kuliah di Jogja itu pulang ke kampung halamannya. Disana mereka banyak yang jadi kepala laboratorium, dosen. Karena masih berhubungan baik, akhirnya mereka tetap memesan tikus percobaan ke saya,” jelasnya.

Dari hasil memelihara dan membudidayakan tikus putih atau yang bernama latin Rattus Norvegicus, Suparno mampu menghidupi keluarganya. Selain untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari, dari tikus-tikus itu pula, Suparno juga mampu menyekolahkan kelima orang anakanya. Termasuk menguliahkan seorang anaknya di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. “Ya, memang ini satu-satunya pekerjaan atau mata pencaharian saya. Karena tidak ada pekerjaan lain,” ungkapnya.

Meski saat ini jumlah pembudidaya tikus sudah semakin bertambah, Suparno mengaku yakin, usahanya tetap akan berjalan. Ia yakin dan percaya, Tuhan pasti akan memberikan jalan rizki kepada setiap hamba-hambanya yang mau berusaha. Terlebih, bila usahanya itu bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

Lihat juga...