Elegi Sakura

CERPEN BAGUS DWI HANANTO

MUSIM semi, waktu untukku berbunga. Dan orang-orang akan datang mengagumi diriku. Rumah yang kutinggali selama bertahun-tahun ini sudah banyak menyimpan kenangan akan kebersamaan para penghuninya.

Aku telah lama menyerap ucapan, segala kelakuan manusia yang datang silih berganti bersamaan dengan usia mereka. Beberapa orang meninggal dan lahir yang baru menggantikan si mati.

Bahkan saat tubuhku kering setelah melewati musim panas tahun lalu, aku dapat mendengar musik kuno khas festival yang telah akrab tiba dan meresap ke dalam diriku.

Musik itu dimainkan pada saat malam dan orang-orang beranjak ke pusat festival.

Para penghuni di rumah juga akan pergi. Kecuali Tuan Muda yang jarang menghabiskan waktu di malam hari pada musim panas.

Dia datang ke taman rumah ini untuk menatap diriku. Tuan Muda biasa berteduh di tugurku, membaca atau menulis.

Kadang ia lama membisu dan seolah menghayati peranku sebagai pohon yang selalu menemaninya dari mulai ia kecil hingga sekarang.

Dan bunga-bunga indah di rerantingku ini kupersembahkan khusus untuk Tuan Muda. Gugurnya selalu sama, dan bunganya singkat mekar hanya seminggu. Tuan Muda tampak bahagia tiap kali menyaksikan diriku berbunga.

Dipandanginya diriku, berlama-lama suntuk dalam perenungan. Atau ia duduk di bawah kerindangan bunga-bungaku dan menunjuk ke arah bunga yang mekar.

Saat siang ketika matahari musim semi cerah, Tuan Muda senang duduk-duduk santai sambil mendengarkan angin.

Karena kemegahanku banyak tamu yang berkunjung ke kediaman ini, menengok taman untuk berlama-lama mengagumi dan memuji diriku. Beberapa orang telah aku kenal.

Si pedagang sake dari Fushimi, pelukis kaligrafi asal Nara, dan seorang perempuan yang agaknya merupakan teman yang begitu dikasihi Tuan Muda. Dari yang kudengar perempuan itu berasal dari rumah yang jaraknya dekat kediaman ini.

Aku tahu kusu no ki yang berada beberapa langkah di seberangku selalu iri tiap kali manusia memuji keindahanku. Aku hanya bisa mengatakan maaf lewat angin yang berharap sampai ke dahan-dahan pohon itu.

Manusia lebih suka tinggal dalam tugurku ketimbang kusu no ki yang kerap dikaitkan dengan kuil-kuil dan segala hal keramat. Lagi pula bukan salahku aku tumbuh di dekatnya. Tuanku yang hidup setengah abad sebelum Tuan Muda menanamku di sini. Ucapan maaf yang kulayangkan puluhan tahun tak sanggup kusu no ki terima.

Meski begitu aku selalu berdoa pada Sang Buddha agar aku dan kusu no ki tetap sehat hingga bertahun-tahun. Sang Buddha selalu menjawab doa-doaku dan aku tetap dapat berbunga hingga kini.

Pada musim semi kali ini ramai orang datang berkunjung dan itu dikarenakan hubungan Tuan Muda dengan teman dekatnya itu. Tuan Muda akan menikahi perempuan tersebut.

Ryukyu (murai) yang dipelihara Tuan Muda dalam sangkar bilang pernikahannya di akhir musim semi. Mendengar berita ini aku sangat senang. Tuan Muda akan hidup bahagia dan mereka akan diberi keturunan yang akan menikmati bunga-bungaku. Betapa menyenangkan membayangkan hal itu.

***

SEEKOR hototogisu (sejenis kedasih) hinggap di dahanku dan kami bercengkrama sepagi ini. Ucap burung tersebut musim semi setengah jalan ini telah menumbuhkan bunga-bunga aneka warna. Di rumah-rumah yang ia lewati, banyak bunga bermekaran.

Hototogisu mengatakan bunga fuji yang indah telah mekar dan menjuntai ke mana-mana di sebuah danau kecil tempatnya biasa bertemu teman-temannya. Aku membayangkan bunga indah itu dan usia hidup fuji yang sudah sangat tua.

Betapa menyenangkan untuk terus hidup dan menghiasi dunia agar manusia memuji kita. Lalu Tuan Muda muncul saat kami tengah bercengkrama. Tuan Muda tampak riang tiap kali burung-burung hinggap di dahanku dan mulai berbicara denganku.

Bagi manusia kata-kataku tak bisa didengar akan tetapi ucapan burung masih dapat mereka dengar. Burung-burung berkata dengan menyanyi dan manusia menyebutnya sebagai kicauan.

Hototogisu pergi setelah bosan berkicau. Langit menelannya di ketinggian dan ia tidak kembali lagi setelah beberapa hari. Burung itu tak sengaja mendarat di tubuhku sebab aku tengah mekar dan itu menarik perhatiannya.

Suatu sore, sepi usai, kediaman ini tak dikunjungi orang-orang, keheningan seadanya pecah saat suara ribut sepasang kikuitadaki menghampiriku dan bercengkrama di dahan tertinggi tubuhku.

Awalnya aku hendak marah dan mau mengusir kedua burung tersebut, tapi aku urung melakukannya sebab tertarik dengan isi percakapan mereka.

Dari burung-burung itu aku jadi tahu tentang sebatang sakura tua di tempat bernama Gion yang baru tumbang karena petir kemarin malam. Aku sedih mendengar hal ini. Dari penuturan burung-burung itu, usia pohon sakura di Gion sudah sangat tua, melebihi dua kali usiaku.

Pohon sakura setua itu pasti telah diberkati Sang Budha hingga dapat hidup dari waktu ke waktu. Atau seorang pendeta membacakan sajak cinta untuknya dan ia merasa hidup dan terus hidup.

Aku pernah mendengar kisah-kisah semacam itu dari burung-burung. Kisah yang terkenal adalah tentang sakura abadi yang menjadi puisi dari pendeta tua yang tengah berteduh di tugurnya. Sakura itu, kata burung-burung, adalah pohon terindah yang pernah mereka lihat.

Sulit membayangkan seperti apa pohon sakura terindah, hanya cerita itu sangat berkesan bagiku.
Kematian sakura tua itu adalah kabar menyedihkan untukku. Aku tak bisa tetap bahagia setelah mendengarnya.

Aku perlu bertemu Tuan Muda agar ia dapat menghiburku. Namun sudah seharian ini ia tidak datang berkunjung.

Esoknya Tuan Muda pun tidak tampak. Baru kemudian aku mendengar bahwa keluarga rumah ini tengah pergi ke rumah perempuan teman dekat Tuan Muda untuk melangsungkan acara pertunangan.

Antara sedih dan bahagia, aku merasakan kabar ini. Aku berharap Tuan Muda akan terus ada di rumah ini untuk menengokku.

Memikirkan hal ini aku baru sadar dari lamunan kala seekor mozu (sejenis bentet)  mungil hinggap di ranting terluar tubuhku. Burung itu seharian mengoceh tentang segala hal.

Mozu membuatku senang meski aku masih menanti kedatangan Tuan Muda. Burung ini pandai berbicara dan ia mengeluarkan seluruh kepandaiannya dan memberitahuku tentang nama-nama bunga serta musik-musik musim semi yang tengah dimainkan angin dan dewa-dewa kuil.

Mozu ini tahu segala hal. Saat aku bertanya bagaimana rupa dewa, dia mengatakan bahwa mereka seindah bunga dan begitu melenakan. Semua yang berada di dekatnya akan terkena berkah.

***

HARI ini pun Tuan Muda tidak muncul, aku merindukannya. Entah sudah berapa lama aku tak merasakan hal ini.

Saat dulu Tuan Muda masih kecil, kejadian seperti ini pernah terjadi. Kami sangat akrab dan ia biasa bermain di dekatku tapi suatu hari ia tidak datang hingga seminggu lamanya. Dan aku cemas memikirkannya.

Baru aku tahu Tuan Muda mengunjungi kerabatnya di kota yang jauh dan meninggalkan aku begitu saja.
Pada akhir musim semi, di mana kelopak bunga-bungaku telah berguguran jatuh ke tanah, Tuan Muda masih belum kembali.

Pengurus rumah yang sangat tua memandikan ryukyu di sangkar dan berbicara kalau Tuan Muda telah menikah dan tak akan kembali ke kediaman ini.

Aku sedih mendengarnya. Tak mungkin rumah ini ditinggalkan orang-orang. Tak mungkin Tuan Muda tidak kembali lagi.

Berhari-hari aku tetap menunggunya. Musim panas muncul dan musik kuno dari festival terbawa angin dan kudengar beberapa waktu. Musim gugur datang dan belum ada tanda-tanda Tuan Muda bakal kembali.

Hingga musim dingin menyelimuti tubuhku yang kerontang tanpa keindahan. Waktu tak lagi kupedulikan saat menunggu Tuan Muda.

Si burung ryukyu mati di sangkarnya dan pengurus rumah mengambil burung dan sangkar itu. Sekarang cuma ada aku dan kusu no ki. Kami berbaikan akhirnya. Tak ada manusia kecuali si pengurus rumah yang sudah tua, tak ada kata pujian lagi dan akhirnya kusu no ki memaafkanku.

Keindahan yang bersemayam dalam diriku kini mubazir sebab walau pengurus rumah kadang menengok taman ini, ia tak pernah mengagumi diriku.

Sampai Tuan Muda tiba-tiba muncul dengan perempuan istimewanya dan seorang anak kecil yang begitu cantik. Aku bahagia bisa bertemu lagi dengannya. Aku merasa ini hari-hari terakhirku di dunia. ***

Bagus Dwi Hananto, penulis yang tinggal di Kudus, Jawa Tengah. Menulis puisi dan prosa. Karya novelnya  Elegi Sendok Garpu (Buku Mojok). Antologi kolektif yang memuat karyanya antara lain: Dari Sragen Memandang Indonesia (2012), dan Mata Angin Mata Gelombang (Dewan Kesenian Pati, 2016).

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...