hut

Jelang Lebaran, Produksi Rambak Naik Dua Kali Lipat

Pekerja mengepak kerupuk kulit/rambak di salah sentra industri kerupuk rambak di Tulungagung - Foto Ant

TULUNGAGUNG – Pelaku usaha kerupuk kulit atau rambak di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, menaikkan volume produksi hingga 100 persen atau dua kali lipat.

Hal itu dilakukan, karena tingginya permintaan menjelang Lebaran 2019. “Produksi kami tambah, terutama selama periode H-10 hingga H+10 Lebaran,” kata salah satu pelaku usaha kerupuk kulit atau rambak di Desa Sembon, Kecamatan Tulungagung, Suko Widodo, Sabtu (25/5/2019).

Produksi kerupuk rambak sebelum Lebaran per-dua hari adalah sekitar 35 hingga 40 bojong, berbobot sekitar 4,5 kilogram. Bojong adalah istilah untuk wadah plastik besar, dengan diameter 50 sentimeter dan panjang mencapai dua meter.

Namun frekuensi produksi saat ini ditingkatkan, dari sebelumnya menggoreng kerupuk rambak per-dua hari sekali, menjadi setiap hari. “Kalau volumenya tetap. Cuma produksinya sekarang tiap hari,” tandasnya.

Hal yang sama dilakukan hampir semua pelaku usaha kerupuk rambak di lingkungan Desa Sembon yang konon jumlahnya mencapai 50 UKM. Tingginya permintaan pasar menjadi alasannya. “Sama seperti lebaran-lebaran sebelumnya, permintaan selalu tinggi untuk kebutuhan jajanan, lauk keluarga,dan terutama untuk oleh-oleh,” tandasnya.

Suko mencontohkan produk kerupuk kulit rambak di UD Intan Jaya, tempatnya bekerja. Produksi kerupuk rambak sebanyak 40 Bojong itu selalu habis terbeli konsumen. Pemasaran dilakukan di dua toko jajanan yang dimiliki di Desa Bolo, Kecamatan Gondang maupun di depan kompleks Stasiun Tulungagung.

“Tapi harga tidak bisa kami naikkan. Untuk rambak kerbau kering dipatok Rp165 ribu per kilogram. Sedangkan untuk rambak basah (dari kulit sapi) dipatok harga Rp125 ribu per kilogram,” jelasnya.

Menurut Suko Widodo maupun pengusaha kerupuk rambak lain, produksi kerupuk rambak saat ini berjalan lancar karena bahan baku kulit kerbau maupun sapi cukup mudah didapat. Kerupuk kulit atau kerupuk rambak sendiri disebut menjadi salah satu ikon kuliner di Tulungagung.

Hal itu tidak lepas dari banyaknya pelaku usaha kerupuk rambak di sekitar lingkungan Desa Sembon, Kecamatan Tulungagung yang menggeluti sektor ekonomi kerakyatan tersebut. Serta sejarah industri kerupuk rambak yang cukup panjang dan diakui pencinta kuliner Nusantara.  (Ant)

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!