hut

Jelang Lebaran, Songkok Batik Tulis Madura Laris

Songkok batik tulis Madura, hasil produk perajin batik tulis Pamekasan - Foto Ant

PAMEKASAN – Songkok batik tulis Madura, laris di pasaran menjelang Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1440 Hijriah.

Hal tersebut tidak terlepas dari kebijakan Pemkab Pamekasan yang mengeluarkan surat edaran, agar masyarakat merayakan Lebaran dengan busana batik tulis hasil produk warga setempat.

Menurut pedagang songkok batik tulis Madura di Pamekasan, Tabri Syaifullah Munir, banyaknya pembeli songkok batik tulis, karena kini batik sangat diminati masyarakat. Bahkan di Kabupaten Pamekasan, Bupati Baddrut Tamam, menginstruksikan semua Aparatur Sipil Negara (ASN) menggunakan baju dan sarung batik tulis. “Banyaknya warga yang menggunakan songkok batik tulis di Pamekasan ini mungkin karena efek dari kebijakan Bupati Pamekasan,” kata Tabri, Minggu (26/5/2019).

Pemkab beralasan, kebijakan itu untuk membantu para perajin batik tulis. Batik merupakan hasil kerajinan masyarakat lokal di wilayah itu. “Instruksi ini juga sebagai bentuk komitmen kami, guna terus mendorong peningkatan ekonomi lokal,” kata Baddrut.

Untuk satu buah songkok batik tulis, harganya kini mencapai Rp60.000 untuk berbagai ukuran. “Kalau belinya banyak, atau untuk dijual lagi, harganya beda. Harga Rp60.000 ini untuk harga eceran. Harga partai lain lagi,” kata Tabri.

Selain warga lokal Madura, pesanan songkok batik tulis Pamekasan juga banyak dari luar Madura, seperti Surabaya, Malang, Bandung dan Jakarta.  Bahkan para TKI asal Pamekasan yang bekerja di Malaysia juga banyak yang memesan songkok batik tulis Pamekasan.

Kabupaten Pamekasan merupakan satu dari empat kabupaten di Pulau Madura, Jawa Timur, yang sebagian warganya bergantung pada penghasilan usaha batik tulis. Jumlah perajin batik tulis di kabupaten itu tersebar di 38 sentra batik, dengan jumlah 933 unit usaha. Ada 6.526 orang yang menggantungkan nasibnya pada jenis usaha kreatif ini.

Nilai ekonomi usaha batik, menurut Bupati Baddrut Tamam, menyumbang satu hingga dua persen sektor industri. Kondisinya masih lebih rendah dari sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang mencapai 35,66 persen dan menempati posisi pertama.

Kemudian posisi kedua ditempati oleh sektor perdagangan besar dan eceran dengan kontribusi sebesar 19,61 persen. Kontribusi terbesar ketiga adalah sektor konstruksi dengan kontribusi sebesar 10,12 persen.

Industri batik di Pamekasan juga memiliki kaitan erat dengan beberapa program kerja yang sedang dijalankan bupati. Seperti industri kreatif yang menurutnya relevan pada era Industri 4.0, maupun dengan program wirausahawan baru, serta beberapa program lainnya.

Pemkab Pamekasan berupaya mendorong berkembangnya industri batik di daerahnya, dengan melakukan pembinaan, peningkatan sumber daya manusia (SDM). Juga dilakukan pengembangan alat bantu berupa teknologi, dan upaya memperluas akses pemasaran melalui kegiatan promosi sistemik.

Kebijakan pemkab Pamekasan untuk menguatkan rasa memiliki dan bangga akan hasil produk lokal para pembatik itu, termasuk imbauan semua mobil dinas di masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD) punya motif batik tulis Pamekasan. (Ant)

Lihat juga...