Jumlah Penumpang Kapal dan Bus Diprediksi Naik 15 Persen

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Ketua Dewan Pimpinan Cabang Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (DPC Gapasdap) cabang Bakauheni, memprediksi jumlah penumpang bus dan kapal diprediksi naik sekitar 15 persen. Faktor mahalnya tiket penerbangan membuat sejumlah masyarakat yang mudik memilih moda transportasi darat dan laut.

Kenaikan tiket pesawat yang sudah berlangsung sejak sebulan terakhir, bahkan akan semakin tinggi saat angkutan lebaran. Kondisi tersebut, bisa menguntungkan bagi operator kapal di lintas Bakauheni-Merak dan sebaliknya.

Dari sekitar 71 unit kapal roll on roll off (Roro) berada di bawah naungan Gapasdap serta Indonesia National Ferry Owner Association (INFA), sebanyak 68 kapal roro yang sudah menjalani uji petik siap melayani angkutan lebaran di lintas Selat Sunda.

 

Warsa, Kepala DPC Gapasdap Bakauheni,, Lampung -Foto: Henk Widi

Warsa mengatakan, peningkatan pengguna jasa penyeberangan selain faktor kenaikan tiket pesawat, juga terkoneksinya tol Jawa dan Sumatra. Sebagai perbandingan, penerbangan Tanjungkarang-Yogyakarta paling murah dipatok Rp1.164.400 untuk maskapai Lion Air dan Garuda Rp1.579.190. Kedua maskapai tersebut bahkan harus transit di bandara Soekarno Hatta.

Sementara, dengan moda bus Antar Kota Antar Provinsi seperti DAMRI, penumpang hanya cukup membayar Rp340.000 per orang.

“Tiket tersebut untuk per orang, sementara saat mudik kerap masyarakat pulang mengajak anggota keluarga, efesiensi biaya bisa ditempuh dengan memilih moda transportasi bus atau menggunakan kendaraan pribadi, karena lebih murah,” terang Warsa, Minggu (19/5/2019).

Peralihan minat masyarakat menggunakan moda transportasi kendaraan, terutama dari Jawa ke Sumatra dan sebaliknya, bisa berdampak positif bagi penyedia jasa pelayaran.

Setiap kapal bisa melayani hingga empat trip dalam sehari, dengan muatan kendaraan berbagai golongan operasional kapal bisa ditutup. Meski demikian, kondisi tersebut bisa terjadi jika muatan kapal didominasi kendaraan roda empat. Sebaliknya, jika didominasi kendaraan roda dua pendapatan operator bisa lebih kecil.

Peningkatan volume kendaraan roda empat dan roda dua, sebutnya, tergantung dengan jadwal pelayanan kapal. Sebab, pada sejumlah dermaga reguler, kapal roro bisa mengangkut bus, truk dan kendaraan lain. Sementara pada saat terjadi kepadatan, kapal bisa hanya mengangkut kendaraan roda dua.

Harga tiket kendaraan roda dua per unit yang hanya Rp50.000 per kendaraan, kerap tidak sebanding dengan biaya operasional.

“Pada angkutan mudik, operator kapal kerap melakukan tugas kemanusiaan untuk memperlancar arus mudik dengan keuntungan dikesampingkan,” beber Warsa.

Terlebih, Warsa menyebut aturan terkait pemberlakuan ganjil genap tanda nomor kendaraan bisa ikut menurunkan jumlah pengguna jasa. Meski belum diterapkan, namun ia berharap aturan tersebut tidak berdampak bagi pendapatan sektor transportasi laut.

Meski aturan dari Dirjen Perhubungan Darat bersifat imbauan bagi kendaraan mobil, bisa ikut mempengaruhi muatan. Pasalnya, jadwal kapal tidak bisa ditunda jika waktu pelayanan sudah habis, meski masih ada muatan maka harus diberangkatkan.

Warsa optimis, pada angkutan lebaran 2019 sejumlah kapal yang melayani dalam kondisi prima. Kenaikan jumlah penumpang tersebut telah diantisipasi dengan penyiapan dermaga kapal khusus pengangkut motor.

Dermaga eksekutif yang memiliki waktu tempuh lebih cepat, meski dengan harga lebih tinggi dibanding dermaga reguler. Kenaikan tiket pesawat udara diakuinya bisa memberi dampak lonjakan penumpang pengguna jasa kapal laut.

Selain bagi operator kapal, kenaikan tiket pesawat udara mulai berdampak bagi usaha jasa agen tiket bus. Jhon Hamidi, pemilik usaha jasa penjualan tiket, menyebut sejumlah bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) mulai menjual tiket untuk lebaran.

Jhon Hamidi, pemilik usaha agen penjualan tiket bus AKAP trayek Sumatra ke Jawa -Foto: Henk Widi

Permintaan tiket dari Lampung ke kota di Jawa meningkat dibanding hari biasa. Sejumlah perusahaan otobus (PO), di antaranya Rosalia Indah, Handoyo, Zentrum, DAMRI, Lorena dan bus dari sejumlah PO masih menerapkan tarif normal.

“Pembelian tiket jauh hari untuk memesan kursi kerap sudah diprediksi dengan kenaikan tuslah, namun harganya lebih murah dari tiket pesawat,” terang Jhon Hamidi.

Ia menyebut, sejumlah bus AKAP mendapat pesanan tiket masyarakat yang akan pulang kampung. Sejumlah bus trayek Sumatra ke Jawa sebagian bahkan memanfaatkan operasional jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dengan waktu tempuh lebih cepat.

Berdasarkan kota tujuan, Jhon Hamidi menyebut tiket bus AKAP dari Lampung ke sejumlah kota di Jawa berkisar Rp300.000 hingga maksimal Rp700.000. Harga tersebut menyesuaikan kelas bisnis maupun eksekutif yang masih cukup murah dibanding tiket pesawat.

Pada hari biasa, Jhon Hamidi menyebut pesanan tiket hanya berkisar 40 hingga 60 penumpang per bulan.

Namun, pemesan untuk mudik ke sejumlah kota di Jawa sudah berjumlah 50 orang dalam waktu dua pekan. Penumpang bus diakuinya kerap akan pulang sepekan sebelum hari raya Idul Fitri. Sebab, sebagian merupakan perantau dan pekerja proyek JTTS yang belum selesai.

Sebagian pekerja merupakan warga asal Semarang, Solo dan sejumlah kota di Jawa Tengah. Lancarnya transportasi dengan bus berkat adanya jalan tol sekaligus memicu permintaan tiket bus jelang hari raya Idul Fitri 1440 H.

Lihat juga...