hut

Kain Tenun Ikat Wajib Dikenakan Saat Ritual Adat

Editor: Koko Triarko

LEWOLEBA – Daerah di wilayah provinsi NTT selalu identik dengan motif kain tenun ikat. Wilayah Flores, khususnya, selalu identik dengan kain tenun ikat. Benang diikat motifnya terlebih dahulu sebelum ditenun menggunakan alat tenun tradisional.

“Kain tenun ikat bagi masyarakat Lembata wajib dikenakan saat ada ritual adat. Kaum lelaki dan perempuan wajib mengenakannya, apalagi ritual adat berlangsung di rumah adat dan Namang,” sebut Frans Kota Making, tokoh adat Lamatokan, kecamatan Ile Ape Timur, kabupaten Lembata, Minggu (19/5/2019).

Dikatakan Frans, Namang merupakan sebuah pelataran, areal tempat membuat ritual adat. Tempat tersebut bagi sebuah wilayah adat merupakan daerah keramat yang biasanya terdapat rumah-rumah adat semua suku di wilayah tersebut.

Frans Kota Making, tokoh adat desa Lamatokan, kecamatan Ile Ape Timur, kabupaten Lembata. –Foto: Ebed de Rosary

“Makanya, saat acara adat di tempat ini semua orang harus menggunakan kain tenun ikat. Tetua adat pun mengenakan ikat kepala dan ikat pinggang dari daun lontar,” terangnya.

Hampir di setiap desa atau kecamatan, memiliki motif tenun ikat tersendiri.

Perempuan-perempuan penenun selalu ditemukan di setiap desa. Tenun ikat juga wajib dibawa saat acara adat Antar Dulang, acara hantaran sebelum adanya pernikahan maupun acara lainnya.

“Sebelum menikah, keluarga pengantin laki-laki akan menghantar bahan makanan dan minuman atau sembako. Kain tenun ikat wajib dibawa saat hantaran ini. Juga dibawa hewan ternak yang akan disembelih saat diselenggarakan pesta,” ungkapnya.

Bagi masyarakat desa Lamatokan maupun wilayah Ile Ape, kata Frans, biasanya motif kain tenun laki-laki, berbeda. Kain tenun laki-laki warnanya lebih cerah dibandingkan dengan kaum peempuan yang motif dan warnanya lebuh kalem atau agak buram.

Florensia Maing yang sedang menjual kain tenun di pasar desa Lamatokan, mengatakan, harga kain tenun ikat Lembata bervariasi. Harga terendah biasanya Rp300 ribu, sementara harga termahal mencapai Rp600 ribu selembar.

“Hampir semua kain tenun ikat menggunakan benang yang dibeli di toko produksi pabrikan. Sulit dijumpai kain tenun ikat yang menggunakan benang dari kapas dan memakai pewarna dari bahan-bahan alam,” ujarnya.

Ada berbagai motif tenun ikat yang dijual Florensia, baik dari wilayah Ile Ape, Kedang, Atadei, Lebatukan juga kain dari Lamalera. Selain itu, dirinya juga menjual kain tenun ikat dari pulau Adonara yang juga banyak disukai pembeli.

“Kalau tenunan dari wilayah Kedang, motif dan warnanya lebih cerah dan terlihat terang, hampir sama dengan beberapa motif dari pulau Adonara di wilayah kabupaten Flores Timur. Harga jualnya pun bisa lebih mahal, berkisar Rp500 ribu,” tuturnya.

Biasanya, yang murah kain tenun dari wilayah Lebatukan. Harga jualnya berkisar Rp300 ribu selembar. Tetapi, kata Florensia, pembeli lebih banyak yang menyukai warna cerah, sehingga membeli kain tenun ikat dari wilayah Kedang atau Adonara.

“Saat hari pasar desa, pun tidak banyak yang beli kain tenun ikat. Paling banyak lima lembar saja, sehingga keuntungan yang saya dapat pun sedikit saja. Tapi kalau sedang ada pesta pernikahan atau ritual adat, maka banyak yang beli dan biasanya bisa mencapai 10 lembar,” pungkasnya.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!