hut

Kaltim Kampanyekan Diversifikasi Pangan

Editor: Koko Triarko

Kepala Dinas Pangan Tanaman Pangan Hortikultura (DPTPH) Kaltim, H Ibrahim –Foto: Ferry Cahyanti

BALIKPAPAN – Untuk mendorong ketahanan pangan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, mengampanyekan Gerakan Diversifikasi Pangan, guna mendorong tercapainya ketahanan pangan. Sehingga, saat ini pemerintah intensif melakukan sosialisasi guna memberikan pemahaman dan pengetahuan, sekaligus mengajak masyarakat untuk melakukan konsumsi pangan alternatif. 

Menurut Kepala Dinas Pangan Tanaman Pangan Hortikultura (DPTPH) Kaltim, H Ibrahim, banyak komoditi pangan penghasil karbohidrat selain beras. Yakni, jagung, sagu, singkong (ubi kayu), sukun maupun umbi-umbian, juga padi-padian semacam jelai dan sorgum.

“Diversifikasi pangan ini sebagai upaya kita mengurangi konsumsi masyarakat terhadap karbohidrat bersumber dari nasi (beras),” terangnya, Senin (6/5/2019).

Diversifikasi pangan tersebut sebagai upaya mengurangi konsumsi masyarakat terhadap karbohidrat bersumber dari beras. “Sekarang yang dilakukan bagaimana pangan alternatif itu mudah didapatkan masyarakat, sehingga diversifikasi pangan terlaksana cepat,” beber H Ibrahim.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop UKM) Provinsi Kaltim, Fuad Asadin, mengatakan diversifikasi pangan merupakan upaya untuk mendorong masyarakat, agar memvariasikan makanan pokok yang dikonsumsi, sehingga tidak terfokus pada satu jenis saja.

Ke depan, diversifikasi pangan mutlak dilakukan. Bila hanya mengandalkan satu komoditi, yaitu beras saja, maka permintaan akan beras semakin meningkat dan bisa memicu kenaikan harga. Padahal, lanjut Fuad, saat ini di samping lahan persawahan kian terbatas berimbas pada tingkat produksinya.

“Guna mewujudkan Kaltim swasembada pangan, maka harus dilakukan diversifikasi pangan,” tandasnya.

Selain itu, Fuad menambahkan dengan diversifikasi pangan, maka harga pangan tersebut lebih murah dan ketersediaannya sangat cukup.

“Tetapi, persoalannya masyarakat belum bisa menerima konsumsi pangan alternatif. Karena dianggap tidak keren. Sebenarnya, konsumsi bukan keren atau tidak. Tetapi, bagaimana gizi itu tersedia secara cukup,” ujarnya.

Di samping itu, sosialisasi penganekaragaman pangan perlu lebih berkelanjutan, agar masyarakat lebih memahami.

Lihat juga...