Kawasan Penyangga Pangan Kotawaringin Timur Mulai Ditanami Sawit

Perkebunan Sawit - Dok. CDN

SAMPIT — Sebagian masyarakat di kawasan selatan Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, mulai memanfaatkan lahan mereka untuk menanam kelapa sawit padahal kawasan itu dicadangkan sebagai penyangga pangan daerah ini.

“Tata ruang kita, khususnya untuk daerah selatan itu dicadangkan untuk penyangga pangan, jadi hanya boleh untuk komoditas padi, kelapa dalam, dan komoditas pangan lain. Tapi, kini masyarakat mulai banyak yang beralih menanam kelapa sawit,” kata Sekretaris Daerah Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor di Sampit, Senin (13/5/2019).

Kawasan selatan Kotawaringin Timur meliputi Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Mentaya Hilir Selatan, Teluk Sampit dan Pulau Hanaut. Kawasan ini merupakan lumbung padi Kotawaringin Timur, khususnya di Kecamatan Teluk Sampit dan Mentaya Hilir Selatan.

Pemerintah daerah telah menetapkan kawasan selatan sebagai wilayah penyangga pangan melalui penetapan tata ruang daerah. Pemerintah daerah pun berkomitmen untuk tidak memberikan izin kepada perusahaan besar perkebunan kelapa sawit untuk beroperasi di kawasan Selatan agar kawasan itu tetap difokuskan untuk pertanian mendukung ketahanan pangan.

Namun yang terjadi saat ini, memang tidak ada perusahaan besar kelapa sawit yang diberikan izin di kawasan itu, tapi justru masyarakat sendiri yang mulai menanami lahan mereka dengan kelapa sawit. Bahkan kabarnya ada yang sudah mengganti sawah dan kebun kelapa mereka untuk ditanami sawit.

“Diberikan izin (untuk sawit) tidak boleh karena tata ruang tidak memperbolehkannya, tapi di satu sisi itu tanah mereka sendiri. Makanya ini perlu pembahasan dan solusi, khususnya bagi tanaman yang sudah eksis,” kata Halikinnor.

Halikinnor menduga petani di kawasan Selatan mulai tergoda menanam kelapa sawit karena menilai hasilnya lebih menjanjikan dibanding tanaman padi. Keberhasilan masyarakat di kawasan utara dengan kebun sawit rakyatnya diduga menjadi perbandingan sehingga petani di kawasan Selatan mulai beralih ikut menanam sawit.

Pemerintah daerah berupaya mencari solusi terbaik masalah ini. Petani yang beralih ke komoditas sawit memerlukan legalitas karena pemerintah daerah sudah lama menyurati seluruh pabrik kelapa sawit agar hanya menerima sawit dari kebun rakyat yang jelas asal usul dan legalitasnya.

Kebijakan itu dibuat menyikapi maraknya pencurian kelapa sawit beberapa waktu lalu sehingga pabrik kelapa sawit diharapkan hanya membeli sawit dari kebun petani yang ada izinnya.

Halikinnor mengakui, makin banyak waga Kotawaringin Timur yang menanam kelapa sawit. Meski harganya sempat anjlok namun untuk jangka panjang komoditas ini dinilai masih menjanjikan.

Di sisi lain, penetapan kawasan penyangga pangan harus dilakukan untuk menjamin ketahanan pangan daerah. Untuk itulah akan dicarikan solusi terbaik masalah ini. [Ant]

Lihat juga...