Ketergantungan Pakan Pabrikan, Kendala Ternak Tikus Putih

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Ketergantungan peternak pada pakan pabrikan masih menjadi kendala utama dalam usaha budidaya selama ini, tak terkecuali budidaya tikus putih.

Hal itu membuat peternak mau tak mau harus ikut membeli harga pakan yang semakin hari semakin naik.

Salah seorang peternak tikus putih asal Bantul Yogyakarta, Suparno, tak menampik hal tersebut. Lelaki 52 tahun ini mengaku, selama ini memang hanya menggunakan satu jenis pakan pabrikan saja dalam memberi pakan ternaknya.

Suparno, pembudidaya tikus putih asal dusun Dadapan, Timbulharjo, Sewon, Bantul – Foto: Jatmika H Kusmargana

Pakan pabrikan jenis BR dipilih karena dinilai memiliki kandungan komposisi yang lengkap.

“Saya biasa membeli pakan ternak 1 karung isi 50 kilogram setiap 5 hari sekali. Jadi sehari itu butuh pakan setidaknya sekitar 10 kilogram BR. Semua itu untuk memberi makan sekitar 1000 ekor ternak tikus saya,” katanya, baru-baru ini.

Karena hanya menggunakan satu jenis pakan saja, maka mau tak mau Suparno harus mengikuti harga pasaran pakan pabrikan tersebut. Saat harga pakan naik, ia pun tetap harus mau mengikuti dan membelinya agar usaha ternaknya bisa tetap jalan.

“Kalau harga pakan naik, peternak seperti kita yang susah. Karena otomatis biaya produksi jadi meningkat. Padahal harga pakan terus naik dan tidak pernah turun. Sementara di sisi lain, kita tidak bisa sembarang menaikkan harga jual ternak, karena pelanggan bisa lari,” katanya.

Selain masih tergantung pada pakan pabrikan, kendala usaha budidaya tikus putih untuk keperluan penelitian/eksperimen laboratorium juga terkait dengan proses pengiriman.

Suparno menyebut mahalnya biaya paket/ekspedisi yang bisa berkali-kali lipat dari nilai jual paket itu sendiri telah membatasi pemasaran usaha ternaknya selama ini.

Para pelanggan kelas pehobi yang biasa memakai tikus putih sebagai pakan ular atau burung hantu, biasanya akan enggan membeli tikus secara online karena mahalnya biaya ongkos kirim atau ongkir.

Terlebih biaya ongkir paket berisi binatang seperti tikus memiliki prosedur yang lebih rumit serta biaya lebih mahal.

“Kemarin saya kirim ke Manado itu biaya ongkirnya bisa sampai Rp1,5 juta. Itu belum termasuk biaya untuk mengurus proses karantina, packing, dan sebagainya. Sehingga kalau memang tidak butuh sekali konsumen enggan membeli dengan cara dikirim lewat paket,” ujarnya.

Akibatnya mahalnya biaya paket ekspedisi tersebut, Suparno sendiri saat ini memilih untuk lebih fokus melayani pasar lokal di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya saja. Pengiriman ternak ke luar daerah biasanya hanya ia lakukan untuk pelanggan kelas perusahaan atau instansi besar saja.

“Kalau untuk kelas perorangan seperti pehobi binatang reptil, biasanya hanya dari wilayah sekitar Jogja saja. Kalau yang dari luar daerah sudah semakin sulit,” katanya.

Para peternak seperti Suparno sendiri hanya bisa berharap agar Pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan yang memudahkan mereka mengembangkan usaha. Mulai dari mengontrol harga pakan pabrikan agar selalu stabil, serta membuat biaya pengiriman ekspedisi terjangkau seluruh kalangan.

Lihat juga...