Lawan Pendangkalan dengan Konservasi Nipah

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Pendangkalan sungai dan muara di Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur mengganggu aktivitas nelayan di daerah tersebut.

Didit Widyanto, pemerhati lingkungan pesisir pantai sekaligus rimbawan asal Kecamatan Labuhan Maringgai Lampung Timur (Dok.Pribadi/Henk Widi)

Didit Widyanto, pemerhati lingkungan sekaligus rimbawan mitra Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut, pendangkalan sungai diakibatkan aktivitas pembuangan sampah.

Didit bersama pemerhati lingkungan lain asal Desa Karya Makmur, sepekan sekali melakukan pembersihan sampah di wilayah tersebut. Sampah yang didominasi sampah plastik banyak dibuang sembarangan oleh masyarakat. Upaya melawan plastik sebenarnya terus dilakukan oleh pegiat lingkungan.

Mereka mendorong masyarakat tidak membuang sampah ke sungai. Saat ini Sungai Nibung dan Sungai Muara Gading Mas, yang menjadi lokasi pendaratan dan alur perahu nelayan di daerah tersebut rentan mengalami pendangkalan. Imbasnya, dalam satu dasawarsa terakhir, sungai dengan kedalaman lebih dari lima meter tersebut, rata-rata hanya memiliki kedalaman dua meter. Pada beberapa titik lokasi pendaratan perahu, nelayan mengalami kesulitan melakukan aktivitasnya.

Kondisi pendangkalan diperparah dengan sedimentasi lumpur yang terus terjadi. Hal itu imbas dari aktivitas tambak udang, yang membuang lumpur pembersihan tambak ke pantai. “Faktor faktor penyebab pendangkalan sungai yang bermuara ke perairan Labuhan Maringgai secara kasat mata sudah diketahui penyebabnya, tinggal bagaimana masyarakat bisa mengurangi atau menghentikan kerusakan lingkungan sungai dan pantai,” tutur Didit kepada Cendana News, Rabu (22/5/2019).

Bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Karya Makmur, pengelola Pantai Mutiara Baru, Didit tanpa henti membersihkan sampah dan melakukan reboisasi. Reboisasi dilakukan dengan menanam mangrove, kelapa dan nipah.

Mangrove diperoleh dari pembibitan menggunakan botol plastik, yang diperoleh dari sampah yang dikumpulkan. Tanaman lain yang mulai menjadi perhatian adalah Nipah atau Nypa Fruticans Wumb. Tanaman yang tumbuh secara alami di sekitar muara dan alur sungai tersebut bisa membantu mencegah abrasi.

Saat air pasang, tanaman tersebut hanya terlihat dibagian daunnya. Bagian batang menjalar di tanah dan sebagian terendam lumpur. Akar serabut yang menjalar sampai belasan meter, ikut memperkuat bantaran sungai. “Terjangan gelombang pasang bahkan bisa teredam oleh barisan nipah yang berada di sungai sebagai benteng alami mengatasi abrasi,” ujar Didit.

Tanaman nipah menjadi penahan abrasi di sepanjang sungai Nibung Lampung Timur – Foto Henk Widi

Salah satu nelayan Labuhan Maringgai, Rusmin, pemilik perahu jaring menyebut, pendangkalan sungai menyulitkan aktivitas nelayan. Upaya untuk menyandarkan kapal sangat terpengaruh sedimentasi lumpur dan sampah.

Upaya pendalaman pernah dilakukan, namun pendangkalan kembali terjadi. Melihat kondisi fisik sungai yang dipenuhi sampah plastik, aktivitas membuang sampah disebutnya ikut merusak lingkungan di wilayah tersebut.

Selain di Sungai Muara Gading Mas, nelayan di Sungai Nibung juga mengalami hal yang sama. Pertemuan antara sungai dan laut di Desa Karya Makmur, sering terpisah oleh lumpur. Saat proses pasang surut, nelayan kesulitan saat akan melaut dan menyandarkan perahu.

Nelayan bahkan memilih menambatkan perahu di tanaman nipah sembari menunggu air pasang. Nelayan yang mencari ikan dengan jaring di wilayah tersebut harus istirahat saat surut.

Beruntung pengembangan wisata konservasi di Pantai Mutiara Baru, membuat nelayan tidak semakin mengkhawatirkan kondisi lingkungannya. Nelayan memilih menjadi penyedia jasa sewa perahu untuk wisata susur sungai yang kaya vegetasi mangrove dan nipah.

Lihat juga...