hut

Masyarakat Desa Lamatokan Selalu Menjaga Hutan Bakau

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LEWEOLEBA — Menjaga kelestarian lingkungan, terutama hutan bakau yang menjadi tempat tempat bertelur dan berkembangbiaknya ikan, masyarakat Lamatokan, kecamatan Ile Ape Timur kabupaten Lembata, NTT menerapkan sanksi adat bagi yang menebang.

Benediktus Bedil warga asal desa Lamatokan kecamatan Ile Ape Timur kabupaten Lembata. Foto : Ebed de Rosary

“Bagi masyarakat disini, menebang bakau berarti memiliki keberanian luar biasa dan sudah siap menerima sanksi. Jangankan menebang bakau, memilih kayu yang kering saja masyarakat tidak berani,” sebut Benediktus Bedil, warga asal Lamatokan, kecamatan Ile Ape Timur kabupaten Lembata, Rabu (15/5/2019).

Dikatakan Benediktus, sejak turun temurun masyarakat dilarang untuk merusak bakaum baik dengan mengambil kayunya maupun buahnya yang jatuh ke tanah. Ini yang membuat bakau masih tumbuh subur di daerah ini.

“Beberapa tahun ini mulai kembali diberlakukan sanksi adat sehingga semua masyarakat mengetahuinya dan patuh. Masyarakat takut kena sanski adat sebab dendanya sangat berat, berupa kambing, babi, ayam dan lainnya,” ungkapnya.

Dengan memberlakukan hukum adat ini sebut Benediktus, praktis membuat semua masyarakat taat. Tidak ada yang berani melanggar apalagi secara sembunyi-sembunyi menebang bakau di dalam wilayah desa Lamatokan.

“Yang melanggar dan tidak diketahui pasti akan terkena malapetaka berupa sakit bahkan meninggal dunia.Jadi siapapun yang melanggar maka dia harus mengakui kesalahannya dan membayar denda adat sesuai dengan besar kecilnya pelanggaran yang akan ditentukan oleh ketua adat,” tuturnya.

Benediktus bersyukur dengan adanya sanksi adat yang diterapkan kembali membuat bakau di sekeliling desa Lamatokan tumbuh subur dan tetap terjaga.kearifan lokal ini yang harusnya diterapkan di semua desa-desa pesisir di Lembata agar ekosistim bakau tetap terjaga.

Petrus Boli nelayan desa Lamatokan mengatakan, masyarakat hampir setiap tahun selalu menanam bakau. Dengan begitu hutan bakau selalu terjaga dan ikan-ikan mulai banyak berkeliaran di pesisir pantai di desa lamatokan.

“Ada beberapa wilayah yang bakaunya telah tua sehingga kami harus remajakan lagi. Anakan bakau diambil dari sekeliling hutan bakau di wilayah timur dan ditanam lagi di pesisir pantai agar tanaman bakau semakin lebat,” ungkapnya.

Areal bakau yang ditanam pun tambah Petrus, dipagari agar selain memberi tanda jangan dimasuki siapapun, juga bisa menghalangi hewan peliharaan warga memakan bakau. Warga pun sudah mengetahui apabila areal tersebut dipagari maka tidak boleh dilewati.

“Kearifan lokal ini sebuah warisan yang harus terus dijaga sehingga kehidupan ekosistem laut di desa Lamatokan selalu tetap terjaga dengan baik. Kami bersyukur lembaga adat di desa ini sangat berperan aktif,” sebutnya.

Lihat juga...