Menunggu Buka Puasa, Anak-Anak Pangkalpinang Bermain “Meriam Bambu”

Anak-anak Pangkalpinang memainkan "meriam bambu" sebuah permainan tradisional yang muncul dalam Ramadhan 1440 H, Senin (13/5/2019) ( Foto Ant)

PANGKALPINANG – Anak-anak di Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, masih gemar bermain “meriam bambu” setiap kali memasuki Ramadan.

Alfin, seorang anak Pangkalpinang mengaku, gemar memainkan meriam bambu karena dianggap sangat mengasyikkan. Permainan tersebut dijalani untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa. “Saya senang memainkan meriam bambu, tetapi harus hati-hati karena bisa mengeluarkan percikan api dari lubang sumbu yang bisa mengenai wajah,” ujarnya, Senin (13/5/2019).

Meriam bambu merupakan permainan tradisional memanfaatkan batang bambu. Dengan menggunakan minyak tanah yang dimasukan kedalam batang bambu, kemudian disulut dengan potongan kain, maka batang bambu akan mengeluarkan suara ledakan keras, layaknya sebuah meriam asli.

“Cara memainkan meriam bambu ini tidak mudah, karena harus dipancing dengan menggunakan ranting kayu dalam keadaan terbakar kemudian dimasukkan ke lubang sumbu yang berisi minyak dan potongan kain sebagai sumbunya,” jelasnya.

Asri, anak lainnya mengatakan, permainan meriam bambu memunculkan bunyi yang sangat keras. Sehingga, ada sebagian warga yang merasa terganggu. “Kalau dulu, orang melepaskan meriam bambu di depan rumah mereka, tetapi sekarang harus dicari tempat yang sedikit sepi dari pemukiman supaya warga tidak terganggu,” tandasnya.

Namun demikian, ada juga sebagian warga malah senang melihat anak-anak memainkan meriam bambu. Mereka seakan tidak terganggu oleh bunyi ledakan yang sangat keras. “Bahkan ada sebagian warga menawarkan batang bambu dekat rumahnya yang katanya sudah tua sehingga bisa menghasilkan bunyi yang lebih keras,” ujarnya.

Untuk bisa menghasilkan bunyi yang keras dan bulat, sangat tergantung dari kualitas bambu yang digunakan. Bambu yang masih muda, bunyinya tidak begitu bagus. “Bambu yang bagus itu kalau usianya sudah tua, bunyinya keras dan tidak gampang pecah. Sebagian bambu bisa pecah karena tidak kuat menahan bunyi yang keras,” ujarnya. (Ant)

Lihat juga...