hut

Meski Terpencil, Kesehatan Tetap Jadi Prioritas Warga Desa Roga Ende

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

ENDE — Memasuki pemukiman warga dusun Toba desa Roga, terlihat perumahan warganya masih sederhana dan semuanya beratap seng. Meski demikian, semuanya sudah memiliki toilet di rumah masing-masing.

Kepala desa Roga kecamatan Ndona Timur kabupaten Ende, Stefanus Beda, SPd. Foto : Ebed de Rosary

“Semua rumah sudah miliki toilet masing-masing. Tetapi kalau kamar mandi dan mencuci pakaian, beberapa warga masih menggunakan bak air umum yang ada di setiap dusun,” sebut kepala desa Roga, kecamatan Ndona Timur kabupaten Ende, Stefanus Beda, SPd, Jumat (10/5/2019).

Dikatakan Stefanus, kesadaran warga mulai tumbuh setelah banyak anak muda yang merantau ke luar daerah termasuk bekerja di Kalimantan. Setelah kembali dan membangun rumah, mereka selalu membangun toilet dan kamar mandi di rumah mereka.

“Warga desa kami meski dikatakan terpencil tetapi mereka sudah sadar dan memahami bahwa pentingnya memiliki toilet di rumah sendiri. Tapi rata-rata warga desa jarang yang mengalami sakit berat,” ungkapnya.

Masyarakat desa Roga 90 persen lebih memiliki mata pencaharian sebagai petani. Jarak kebun dan rumah kata Stefanus sangat jauh sekitar 500 meter hingga satu kilometer dari rumah sehingga setiap hari selalu berjalan kaki.

“Mungkin karena setiap hari harus berjalan kaki maka kesehatan warga terjaga. Warga sudah terbiasa berjalan jauh dan bekerja berat mengangkut hasil pertanian dan perkebunan dengan berjalan kaki ke rumah,” tuturnya.

Pihak pemerintah kata Stefanus selalu mengimbau dan mendorong warga membuat MCK di rumah masing-masing meskipun hanya sederhana.

“Saya selalu sampaikan kepada 128 kepala keluarga yang ada di desa ini untuk selalu hidup bersih meskipun memiliki rumah sederhana.Ini yang membuat banyak warga pun akhirnya membangun toilet di rumah mereka meskipun air ada yang masih ambil di bak air umum,” sebutnya.

Markus Pao warga desa lainnya mengatakan bahwa anak-anak di desa Riga rata-rata tamat SD dan SMP sehingga selalu mendapatkan pengetahuan dari luar. Warga pun sering merantau sehingga terbiasa hidup bersih dan setelah kembali ke kampung dan bangun rumah lengkap dengan kamar mandi dan toilet.

“Kalau hidup sehat masyarakat sudah sadar tetapi yang sulit dilakukan yakni mencuci tangan sebelum makan. Warga juga selalu terbiasa makan menggunakan sendok dan jarang yang menggunakan tangan,” ujarnya.

Markus berharap agar pemerintah bisa membantu warga membuat MCK di rumah-rumah warga atau MCK umum di setiap dusun. Warga sulit membuat yang permanen dan berdinding tembok karena terkadang terkendala biaya.

“Kalau pemerintah membantu warga yang tidak mampun tentu akan lebih bagus. Tapi warga sudah sadar hidup sehat sehingga jarang sekali yang mengalami sakit berat kecuali sudah berumur tua,” pungkasnya.

Lihat juga...