hut

Nahkoda di Selat Sunda Diminta Mewaspadai Perubahan Cuaca

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Nahkoda kapal dininta mewaspadai perubahan cuaca di Selat Sunda. Perubahan cuaca kerap terjadi di alur masuk dan keluar pelabuhan, yang bisa mengganggu olah gerak kapal.

Ferry Hendry Yamyn, petugas Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Patroli,KSOP Kelas V Bakauheni,Lampung – Foto Henk Widi

Fery Hendry Yamyn, Petugas Keselamatan Berlayar, Penjagaan dan Patroli (KPLP), Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas V Bakauheni, menyebut, alun dan gelombang kerap mengganggu pelayaran kapal saat kegiatan bongkar muat.

Berdasarkan informasi yang diteruskan dari Badan Klimatologi, Mitigasi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Maritim Lampung, kecepatan angin berpotensi mengganggu pelayaran. Prakiraan cuaca harian di sejumlah pelabuhan laut, termasuk di Bakauheni, kondisi cuaca berawan. Angin bertiup dari arah Selatan sampai dengan Barat Daya, dengan kecepatan enam hingga 15 knot, tinggi gelombang 0,2 hingga 0,7 meter, dan visibility 10 kilometer (km).

Kondisi yang sama terjadi di pelabuhan Merak dengan dominasi angin bertiup dari arah Selatan sampai dengan Barat Daya dengan kecepatan delapan hingga 15 knot, tinggi gelombang 0,2 hingga 0,7 meter, dan visibility 10 km.

Pada alur masuk dan keluar kapal di Pelabuhan Bakauheni, Ferry menyebut, keberadaan pulau-pulau kecil mendukung aktivitas pelayaran. Keberadaan pulau tersebut membantu mengurangi kecepatan angin, yang berasal dari arah Selatan.

“Nahkoda diimbau waspada pada saat keluar dari alur pelabuhan Bakauheni, karena tidak ada pulau penghalang. Angin akan berimbas pada pergerakan kapal. Sebelum sandar, nahkoda juga harus memperhitungkan alun gelombang,” terang Ferry kepada Cendana News, Jumat (3/5/2019) petang.

Prakiraan cuaca di laut setiap hari dikirimkan BMKG. Keberadaanya, untuk acuan kondisi di perairan termasuk di Selat Sunda. Meski demikian, cuaca di perairan kerap berubah signifikan. Perubahan cuaca biasa terjadi saat sore hingga malam hari.

Kesiapan alat-alat navigasi, sekaligus kewaspadaan nahkoda bisa meminimalisir terjadinya insiden. Himbauan kewaspadaan juga diberikan kepada kapal tongkang, kargo, nelayan yang ada di perairan Lampung. Sejumlah peralatan keselamatan harus selalu tersedia di kapal diantaranya, pelampung, sekoci, alat pemadam kebakaran ringan (APAR), dan alat komunikasi. Pengecekan peralatan dilakukan setiap hari.

Hasan Lessy, General Manager PT.ASDP Indonesia Ferry Cabang Bakauheni – Foto Henk Widi

Hasan Lessy, General Manager PT. ASDP Indonesia Ferry cabang Bakauheni menyebut, faktor keselamatan harus diutamakan dalam kegiatan pelayaran. Kapal yang akan melakukan olah gerak di alur masuk dan alur keluar, harus memperhatikan cuaca.

Koordinasi dengan petugas Ship Traffic Control (STC) harus selalu dilakukan, untuk ketepatan jadwal pelayanan. Meski jadwal kapal telah diatur sesuai dengan waktu bongkar muat (port time), saat kondisi cuaca tidak bersahabat, perlu dilakukan penyesuaian.

Akibat kondisi cuaca yang kurang bersahabat koordinasi antara nahkoda, STC dan KSOP harus selalu dilakukan. “Tug boat di pelabuhan Bakauheni dalam kondisi cuaca tidak bersahabat harus selalu siaga, agar bisa digunakan membantu kapal yang susah sandar,” pungkas Hasan Lessy.

Lihat juga...