Pantai Asam Satu Beach Larantuka Mulai Semrawut

Editor: Koko Triarko

LARANTUKA – Pantai Asam Satu Beach, merupakan tempat wisata yang berada di sebelah timur Kota Larantuka, sejauh sekitar 5 kilometer. Pantai ini mudah dijangkau, sehingga selalu ramai disambangi orang hampir setiap hari.

“Pantai ini bagus sekali dan dulu ditata dengan baik. Pantainya bersih dan hampir tidak ada sampah, terutama sampah plastik yang berserakan di pantainya,” sebut Tovik Koban, salah seorang pengunjung, Minggu (12/5/2019).

Namun Tovik menyayangkan, tidak terurusnya pantai ini dengan baik saat ini, padahal menjadi satu-satunya lokasi wisata yang berada di dalam wilayah kota Larantuka. Selain mudah dijangkau, pantai ini pun sudah dilengkapi dengan bangunan kamar mandi dan toilet.

Tovik Koban, salah satu pengunjung pantai Asam Satu Beach. -Foto: Ebed de Rosary

“Sudah ada beberapa lopo dan bangunan untuk tempat beristirahat, sehingga seharusnya pantai ini bisa difungsikan dengan baik. Sayang sekali, padahal dulu saat anak muda mengelolanya secara swadaya, pantai ini ramai sekali dikunjungi orang,” ungkapnya.

Tovik meinta, pemerintah kabupaten Flores Timur dalam hal ini dinas pariwisata, untuk mulai melakukan penataan dan melibatkan anak muda dalam mengelolanya. Harus ada restribusi masuk, sehingga biayanya bisa dipergunakan untuk membayar gaji anak-anak muda yang mengelolanya.

“Selama ini, pengunjung hanya disodorkan kotak dan membayar sumbangan secara sukarela saja,” ujarnya.

Apalagi, saat Semana Santa, puluhan ribu wisatawan dari luar kota Larantuka datang ke tempat ini. Bila pantai wisata ini ditata dengan baik dan dijaga kebersihannya, tentu akan banyak dikunjungi wisatawan.

Hendrika, pengunjung, mengaku kondisi pantai jauh berbeda dibandingkan saat awal. Dirinya menduga, anak-anak muda mulai malas mengelola pantai ini, setelah pemerintah mengambil alih dan menatanya.

“Dulu anak-anak muda selalu rutin membersihkan pantai ini dari sampah. Mungkin saja setelah pemerintah melakukan penataan, mereka tidak setuju sehingga pantai ini sepertinya tidak terurus lagi,” sebutnya.

Hendrika berharap, pemerintah segera mengumpulkan anak-anak muda di kelurahan Weri yang awalnya menggagas tempat wisata ini untuk duduk bersama membahas pengelolaannya. Anak-anak muda harus diberi peran lebih besar untuk merawatnya.

Erlan Lamanepa, salah satu anak muda Weri yang juga turut mengagas berdirinya Asam Satu Beach, mengatakan, pantai ini dibangun berkat swadaya anak-anak muda kelurahan Weri yang awalnya secara rutin membersihkan pantai ini dari sampah.

“Kami menamakan Asam Satu Beach, karena di lokasi ini terdapat pohon asam yang rindang, dan kami membangun beberapa lopo dan tempat bersantai serta mulai menyuguhkan musik live, agar semakin banyak pengunjung yang tertarik,” terangnya.

Lokasi wisata ini, sebut Erlan, tidak mengenakan biaya retribusi masuk. Pihaknya hanya menyediakan kotak sumbangan sebagai dana untuk menjaga kebersihan pantai, seperti membeli tong sampah, gerobak, biaya mesin potong rumput dan biaya perawatan lainnya.

Lihat juga...