Patholo, Rempeyek Khas Gunung Kidul

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Biasa berwarna putih, merah atau hijau. Memiliki tekstur sangat renyah dan berbentuk bulat lingkaran, serta memiliki perpaduan cita rasa gurih dan asin. Itulah, Patholo. 

Mungkin masih banyak orang yang belum pernah merasakan atau mendengar makanan khas Gunung Kidul, satu ini. Ya, Patholo atau Pathilo, merupakan salah satu makanan tradisional yang kini banyak dijadikan sebagai oleh-oleh khas Gunung Kidul.

Dibuat dengan bahan sangat sederhana dan proses yang cukup mudah, Patholo sudah ada sejak puluhan tahun silam. Di sejumlah daerah Gunung Kidul, khususnya bagian selatan, Patholo sudah sejak lama menjadi camilan sehari-hari bagi warga.

Pathilo yang namanya berasal dari gabungan kata Pathi (Pati) dan Telo (Ketela), dibuat dari bahan utama ketela atau singkong. Komoditas pertanian yang begitu mudah ditemukan di Gunung Kidul karena banyak ditanam warga.

Saat panen melimpah dan harga jatuh, warga biasa mengolah hasil panen ketela mereka menjadi berbagai produk olahan makanan, agar nilai jualnya meningkat. Selain Gaplek yang sudah terkenal, Patholo adalah salah satunya.

Desi, warga Tanjungsari Gunungkidul Yogyakarta, Desi –Foto: Jatmika H Kusmargana

Desi, warga Tanjungsari, Gunungkidul, menyebut Patholo dahulu biasa dijual dalam bentuk kering atau mentah, dengan harga yang relatif murah. Namun seiring perkembangan sektor pariwisata di Gunung Kidul, harga Patholo pun meningkat karena kerap menjadi oleh-oleh khas daerah.

“Harganya dulu sekilo hanya Rp8 ribu-Rp10 ribu saja. Tapi, sekarang bisa sampai Rp15 ribu-Rp20 ribu per kilo. Apalagi kalau sedang tidak musim panen ketela,” katanya.

Desi menjelaskan, untuk membuat Patholo tidak sulit. Setelah dikupas dan dicuci bersih, ketela diparut lalu diperas dan diambil ampasnya. Ampas ketela kemudian didiamkan selama semalam, dengan sebelumnya dicampurkan bumbu seperti bawang putih dan garam.

“Biasanya adonan juga ditambahkan pewarna makanan, agar tampak menarik,” katanya.

Setelah didiamkan semalam, adonan ketela kemudian dicetak menjadi potongan kecil-kecil dengan cara digiling. Potongan-potongan itu kemudian dibentuk menjadi bulatan-bulatan, sehingga menyerupai kerupuk. Selanjutnya, dikukus hingga matang.

“Kalau sudah, tinggal dijemur saja sampai kering di bawah sinar matahari. Patholo sudah siap dijual. Dalam bentuk kering atau mentah, Patholo ini bisa tahan sampai lima bulan. Kalau mau mengkonsumsi tinggal digoreng saja,” katanya.

Selain awet, Patholo juga dibuat tanpa bahan pengawet atau pun bahan kimia berbahaya, sehingga sangat baik dan sehat untuk dikonsumsi. Apalagi, ketela juga dikenal memiliki sejumlah kandunganm seperti karbohidrat, protein, hingga vitamin C.

Jika Anda sedang berlibur ke Yogyakarta, jangan lupa mampir untuk mencicipi dan merasakan Patholo, rempeyek ketela asli Gunung Kidul ini.

Lihat juga...