hut

Peduli Alam, Pemerhati Mode Ciptakan ‘Eco Fashion’

Editor: Koko Triarko

Nurussyifa Ardhita, pemilik KAKADITS bersama baju tenun hasil rancangannya –Foto: Ranny Supusepa

JAKARTA – Peduli akan perubahan iklim, ternyata bukan hanya diusung oleh para pencinta alam saja. Para pemerhati mode pun turut berkiprah menjaga keberlangsungan alam dengan menghadirkan eco fashion. 

Bukan hanya diyakini tidak akan mencemari alam, eco fashion juga diyakini memiliki pengaruh yang lebih baik bagi kesehatan para penggunanya. Secara mental, penggunanya akan lebih merasa nyaman, karena merasa bukan merupakan bagian dari faktor yang turut merusak alam.

Secara kaidah, pakaian yang bisa masuk ke dalam kategori eco fashion harus memenuhi beberapa syarat, yaitu bahan baku yang digunakan harus ditanam tanpa menggunakan pestisida, tidak menggunakan bahan kimia, desain yang membuat pakaian menjadi lebih tahan lama dan perlakuan layak pada para pekerjanya.

Salah satu pengusaha eco fashion Indonesia, Nurussyifa Ardhita, yang akan berangkat ke Hongaria untuk mengikuti Festival Tenun Internasional pada musim panas 2019 ini, menyatakan, bahwa intinya eco fashion merupakan bahan sandang yang sepenuhnya dihasilkan oleh alam.

“Jadi, ini betul-betul bahan sandang yang berasal dari alam. Tanpa bantuan mesin. Warnanya juga dari bahan alam, yang harus melalui proses penanaman terlebih dahulu. Jadi, benar-benar tidak ada zat yang bisa mencemari alam,” kata Dhita, demikian akrab dipanggil, saat ditemui, Rabu (29/5/2019).

Ardhita yang merupakan pemilik dari brand KAKADITS menambahkan, karena sepenuhnya bergantung pada alam, maka proses pembuatan bahan sandang yang berbasis eco fashion membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan pembuatan sandang non-eco fashion.

“Untuk menenun kainnya, karena tidak menggunakan mesin. Hanya menggunakan mesin tenun yang terbuat dari kayu, satu lembar kain ukuran 2,5 x 1,2 meter itu membutuhkan waktu sekitar sebulan,” papar Dhita.

Proses pewarnaan juga menunggu dari hasil penanaman bahan pewarna alami, yang hasilnya bergantung sepenuhnya pada kondisi alam.

“Misalnya kunyit untuk warna kuning. Kalau pas lagi musim kemarau, warna kuningnya tidak pas atau malah terkadang tidak keluar warna sama sekali. Kalau musim hujan, tidak ada kendala yang berarti,” ucap Dhita.

Kendala lainnya, menurut Dhiva, adalah keberadaan penenun yang rata-rata sudah berusia lanjut.

“Saat ini saya memiliki penenun di Tuban dan Jepara, total 35 orang.  Tapi sudah berumur semua. Yang generasi muda tidak mau, karena menganggap kegiatan menenun ini tidak memiliki nilai ekonomi yang baik. Karena itu, saya juga bekerja sama dengan salah satu lembaga philantropi untuk memberdayakan dan sekaligus menunjukkan pada generasi muda, bahwa eco fashion ini memiliki potensi yang besar. Baik secara ekonomi maupun untuk mendukung sustainability alam,” urai Dhita, seraya menunjukkan tenun hasil karyanya.

Terkait festival tenun yang akan dihadirinya, Dhita menyebut akan membawa 20-30 koleksi untuk dipamerkan, dan 100 item untuk kebutuhan outlet yang akan dibuka di Hongaria.

“Untuk harga koleksi yang saya bawa ke sana, masih dirembuk dengan tim. Tapi pasti konsepnya adalah hijab,” pungkasnya.

Lihat juga...