hut

Pemkot Samarinda Permudah Pendaftaran Siswa Baru

Ilustrasi pendaftaran sekolah - DOK CDN

SAMARINDA – Pemkot Samarinda, Kalimantan Timur, mempermudah proses penerimaan peserta didik baru. Orang tua yang akan mendaftarkan anaknya, tidak perlu lagi melegalisir akta kelahiran.

Kebijakan tersebut berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. “Kebijakan ini diterapkan karena Wali Kota Samarinda, Syaharie Jaang, yang tidak ingin melihat warganya kesusahan dan menghabiskan waktu antre untuk mendapatkan legalisir akta kelahiran, sebagai syarat pendaftaran siswa baru,” kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda, Asli Nuryadin, Kamis (16/5/2019).

Di tahun sebelumnya, orang tua harus melampirkan foto kopi akta kelahiran berlegalisir Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), ketika akan mendaftarkan anaknya sekolah. Hal tersebut membuat adanya antrean masyarakat di Disdukcapil, setiap kali mendekati masa pendaftaran sekolah.

Asli Nuryadin berpesan, jika masih sekolah yang masih meminta akta kelahiran yang dilegalisir dalam pendaftaran siswa baru, sekolah boleh diingatkan.  Samarinda, wilayahnya cukup luas, sehingga warga yang rumahnya jauh dari pusat perkantoran, akan kesulitan ketika diminta melegalisir akta kelahiran. Rumah warga yang jauh dari pusat kota itu antara lain mereka yang bermukim di Kecamatan Samarinda Utara, terlebih yang di Sungai Siring. Kemudian Kecamatan Kelurahan Makroman di Kecamatan Sambutan, dan Kecamatan Palaran.

Kebijakan lain yang diterapkan Pemkot Samarinda adalah, orang tua diminta melakukan akad dengan pihak sekolah, ketika melakukan daftar ulang atau hari pertama masuk sekolah. Orang tua atau wali murid menyerahkan anaknya untuk dibina dan dididik di sekolah.

“Perlu disadari bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, namun orang tua dan masyarakat juga memiliki peran penting dalam pendidikan, sehingga orang tua memiliki tanggung jawab menyerahkan anaknya ke pihak sekolah. Selanjutnya pihak sekolah akan bertanggung jawab dalam pendidikan di sekolah,” katanya.

Ia juga mengingatkan orang tua agar tidak memaksakan kehendak, supaya anak mereka bisa diterima di sekolah tertentu, sekolah unggul, atau sekolah favorit. “Karena sekolah favorit itu hanya persepsi, mungkin karena sekolah lama, di tengah kota, atau kebetulan para siswanya banyak yang berprestasi,” katanya.

Apalagi penerimaan siswa baru sekarang berbasis zonasi 90 persen, sementara sisanya yang 10 persen untuk jalur prestasi dan siswa pindahan. (Ant)

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!