Pemuda 23 Tahun Asal Bantul, Sukses Produksi dan Jual Pesawat Nir-Awak

Editor: Mahadeva

YOGYAKARTA – Berawal dari hobi olah raga aeromodelling, seorang pemuda asal Kampung Mutihan, Wirokerten, Banguntapan, Bantul,  memproduksi dan menjual berbagai macam jenis kendaraan tanpa awak (nir-awak). 

Adalah, Muhammad Arif (23), mahasiswa jurusan Teknik Sipil, Universitas Cokroaminoto Yogyakarta (UCY). Arif adalah, atlet aeromodelling mewakili Bantul dan DIY. Selain berprestasi di PON 2016, serta Kejurnas Aeromodelling 2018, pemuda kelahiran 1995 tersebut ternyata juga mampu membuat sejumlah kendaraan baik berupa kapal atau pesawat tanpa awak (UAV).

Hebatnya, karyanya tersebut dijual ke berbagai lembaga pemerintah, intansi BUMN maupun perusahaan swasta. Selain digunakan untuk keperluan pengambilan data lapangan melalui pemetaan udara, alat buatan Arif dapat berfungsi untuk pembuatan peta kawasan, pengukuran dan penghitungan lahan tambang atau perkebunan.

Mengukur kedalaman sungai atau danau, hingga drone sebagai alat bantu pertanian untuk menyemprot pupuk atau pestisida di lahan pertanian.  Ditemui Selasa (7/5/2019), Arif mengaku, mulai menekuni dunia aeromodelling sejak 2012 lalu. Saat masih duduk di bangku SMA, Dia diajak seorang kawan untuk bermain aeromodelling. Meski awalnya sama sekali tidak paham, Arif langsung jatuh cinta dengan aeromodelling.

“Awalnya di 2012 saya hanya diajak teman untuk latihan aeromodelling, karena katanya dia kekurangan atlet. Awalnya saya tidak tertarik. Tapi lama-lama saya suka, karena ternyata aeromodelling itu asik dan banyak tantangannya. Dari situ saya kemudian mulai sering latihan dan jadi atlet mewakili Bantul,” jelasnya, Selasa (7/5/2019).

Sebagai atlet, Arif memang hanya bertugas untuk menerbangkan pesawat nir awak dengan remote kontrol. Namun rasa penasaran membuatnya berkeinginan untuk belajar, membuat sendiri pesawat yang selama ini diterbangkannya. Akhirnya berguru kepada pelatih, untuk membuat pesawat tanpa awak tersebut.

“Saya minta diajarin sama pelatih saya. Pertama kali buat pesawat jenis OHLG itu ternyata nggak bisa terbang. Lalu coba buat jenis Free Flight (F1H), tapi juga belum bisa terbang. Setelah setahun belajar, pesawat yang saya buat baru bisa terbang. Senang karena bisa untuk latihan sendiri. Jadi kalau misal rusak tidak resiko,” tuturnya.

Dua tahun berjalan, tepatnya di 2014, setelah mahir membuat pesawat tanpa awak, Arif mulai bekerja sebagai perakit di perusahaan pelatihnya Potretudara.com. Di perusahaan itu, Dia juga belajar mengoperasikan pesawat nir-awak. Tidak sekedar persiapan unutk lomba aeromodelling, namun juga untuk fungsi lain.

“Di perusahaan itu saya juga kerap diminta untuk jadi surveyor. Jadi saya mengambil data di lapangan. Misal mengukur lahan sawit, mengukur lahan tambang, mendata kawasan pembuatan waduk, proyek-proyek pembanguan. Mulai dari wilayah Sumatera, Kalimantan, perbatasan NTT dan lain sebagainya,” tambahnya.

Meski masih bekerja di perusahaan milik sang pelatih, Arif kini mulai merintis usaha perakitan kendaraan nir-awak miliknya sendiri. Karyanya disetor ke perusahaan maupun dijual sendiri. Kendaraan nir-awak telah dibuat antara lain pesawat terbang untuk pemetaan udara, kapal pemetaan bawah air, hingga drone pertanian.

“Satu unit pesawat nir-awak jenis Potret 1300 untuk pemetaan udara saya jual Rp38 juta. Untuk kapal berkisar Rp58 juta. Sedangkan untuk drone pertanian mencapai Rp100 juta lebih. Semua bahan mesin kita beli dari luar negeri. Jadi kita hanya merangkai saja. Satu unit itu biasanya saya kerjakan sendiri sekitar dua hingga tiga minggu,” jelasnya.

Konsumen kendaraan nir-awak banyak adalah instansi pemerintah. Seperti kementian PU, BPN, Kementerian Kehutanan hingga perusahaan-perusahan tambang, ataupun para konsultan.

Lihat juga...