Penjualan Ikan Asin di Aceh Barat, Meningkat

MEULABOH – Permintaan masyarakat terhadap ikan asin di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, selama dua pekan terakhir mengalami peningkatan signifikan, menyusul terbatasnya pasokan ikan segar.

Pedagang ikan asin di Aceh Barat, Rosma, mengatakan, untuk semua jenis ikan asin bisa laku terjual 15 kg sampai dengan 20 kg per hari, tingginya permintaan ikan asin juga dipengaruhi pola konsumsi lauk-pauk warga selama puasa.

“Pada hari-hari biasa, tidak sampai habis 10 kg per hari, kadang ada yang tidak laku. Tapi, sejak bulan puasa sudah lumayan meningkat. Bukan hanya warga Aceh Barat, tetapi dari kabupaten lain juga sambil singgah, beli ikan asin,” katanya, Minggu (12/5/2019).

Lokasi penjualan ikan asin tersebut berada dekat dengan jalan nasional lintas provinsi, sehingga masyarakat yang berangkat dari Banda Aceh ke Meulaboh atau pun dari arah sebaliknya, bisa membeli ikan asin Aceh Barat di lokasi Lhok Bubon itu.

Harga ikan asin yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp300.000 per kg sampai dengan Rp100.000 per kg, seperti untuk jenis ikan teri dijual dengan harga Rp70.000 per kg – Rp100.000 per kg untuk kualitas terbaik, yakni teri kecil.

Sementara jenis ikan kerupuk seharga Rp80.000 per kg, ikan asin campuran dijual Rp30.000 per kg, udang kering seharga Rp80.000 per kg, penghasilan per hari saat ini bisa mencapai Rp1 juta.

“Lakunya tidak menentu. Tapi saat mau Lebaran nanti, biasanya semakin banyak peminat. Saat ini bahan baku ikan segar sedikit mahal, karena hasil tangkapan nelayan juga sedikit berkurang, mungkin karena cuaca kurang baik,” sebut Rosma.

Ikan asin tersebut diproduksi sendiri dalam usaha rumah tangga, yakni menggunakan jasa keluarga, Rosma membeli bahan baku langsung dari nelayan setiap hari dengan modal Rp200.000 per hari sampai dengan Rp500.000 per harinya.

Hanya saja, saat ini tidak semua jenis ikan asin yang dijual tersedia bahan baku, seperti ikan teri hanya ada pada musim tertentu, sehingga saat ini walaupun harganya sedikit naik dari hari biasanya, tetapi sulit mendapatkan bahan baku.

“Tidak menggunakan pengawet, karena ini ikan-ikan kecil semua sehingga rasanya masih alami setelah dijemur dan sehat dikonsumsi warga. Dagangan saya bahkan ada yang sudah ke Malaysia, dibawa oleh masyarakat kita,” katanya. (Ant)

Lihat juga...