hut

Penjualan Komoditas Pertanian di Lamsel, Meningkat

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah pelaku usaha jual beli komoditas pertanian di Lampung Selatan (Lamsel), menikmati keuntungan pada Bulan Suci Ramadan.

Mat Supi, pelaku usaha jual beli hasil pertanian di Desa Rawi, Kecamatan Penengahan, Lamsel, membenarkan hasil pertanian mengalami kenaikan permintaan. Kebutuhan pembuatan kuliner tradisional untuk menu berbuka (takjil) serta kue hari raya Lebaran, memicu pesanan dari pengecer di pasar tradisional.

Selama ini, jenis hasil pertanian yang dibeli dan dijualnya meliputi sayuran, buah pisang, nangka muda, kelapa muda, kelapa bumbu, jengkol, buah pepaya dan hasil pertanian lainnya.

Hasil pertanian tersebut diperoleh dari petani dengan sistem pembelian langsung ke kebun oleh sejumlah pekerja. Kerja sama juga dilakukan dengan para perantara jual beli atau cengkau, untuk memudahkan memperoleh pasokan. Setelah dikumpulkan, hasil pertanian akan dikirim ke Banten dan Jakarta memakai truk ekspedisi.

Menurutnya, kebutuhan kelapa, pisang, jengkol dan hasil pertanian lainnya, meningkat dua kali lipat dibanding hari biasa. Kondisi tersebut cukup beralasan, karena selama Ramadan hasil pertanian diolah menjadi menu berbuka.

Selain oleh sejumlah keluarga yang menjalankan ibadah puasa, pelaku usaha kuliner musiman membutuhkan bahan baku lebih banyak. Jenis pisang kepok, janten dan ambon paling banyak diminta untuk pembuatan berbagai kuliner berbuka selama pekan pertama Ramadan.

“Mendekati pekan kedua dan ketiga, permintaan pisang kerap untuk digunakan sebagai bahan pembuatan keripik menu untuk hidangan hari raya Idul Fitri,di samping itu kelapa bahan santan sebagai bumbu juga meningkat,” terang Mat Supi, saat ditemui Cendana News, Minggu (12/5/2019).

Agus Irawan, pemilik kebun kelapa sekaligus pelaku jual beli kelapa muda di kecamatan Penengahan Lampung Selatan -Foto: Henk Widi

Menurut Mat Supi, jenis pisang yang dibeli dari petani merupakan pisang yang hampir matang. Dari petani, sejumlah pisang dibeli dengan harga bervarisi. Pisang kepok per tandan dibeli Rp20.000, pisang tanduk Rp15.000, pisang ambon Rp15.000 dan pisang raja nangka Rp25.000 per tandan.

Beberapa jenis pisang tersebut selanjutnya akan dijual pengecer di pasar tradisional dalam kondisi matang, dengan sistem sisir sebagian sistem kiloan.

Pada kondisi normal, Mat Supi mengaku mengirim sekitar 50 hingga 150 tandan pisang setiap dua hari sekali. Namun sebelum hingga memasuki Ramadan, pengiriman mencapai 200 hingga 300 tandan per dua hari.

Kemampuan mengirim komoditi pisang, terkendala sejumlah tanaman milik petani yang rusak akibat hama layu fusarium. Meski demikian, hasil pertanian dari kaki Gunung Rajabasa dan pulau Rimau Balak, masih dalam kondisi bagus.

Selain pisang, permintaan komoditi pertanian selama Ramadan yang meningkat berupa kelapa

Kelapa untuk bumbu disebut Mat Supi dibeli dari petani dengan harga bervariasi sesuai ukuran. Dua butir kelapa atau per gandeng dibeli dengan harga Rp2.500 dan dijual pengecer sekitar Rp3.000 hingga Rp4.000 sesuai ukuran.

Kelapa dengan ukuran sedang hingga besar kerap digunakan untuk membuat santan. Sementara ukuran kecil yang tidak masuk ukuran dijadikan kopra.

“Proses pemecahan kelapa untuk kopra menghasilkan air yang kerap digunakan sebagai bahan baku pembuatan nata de coco,” terang Mat Supi.

Sejumlah sayuran yang juga dibeli dari petani paling dominan berupa kacang panjang, jagung manis, jengkol dan petai. Lalapan jengkol dan petai, selain banyak diminati pasar di wilayah Banten, juga kerap diminati pasar lokal.

Meski cukup diminati, musim jengkol dan petai yang tidak bersamaan membuat pasokan menurun. Mat Supi menyebut, harga pembelian di tingkat petani masih cukup stabil, meski permintaan meningkat.

Agus Irawan, pelaku usaha jual beli hasil pertanian lain, mengaku memilih membeli kelapa muda dari petani. Selain itu, ia memiliki ratusan pohon kelapa yang bisa menghasilkan kelapa muda.

Pemetikan kelapa muda disebutnya hanya dilakukan saat Ramadan, karena tingginya permintaan. Dibeli dari petani dengan harga Rp1.000 per butir bahkan sebagian hanya Rp900, kelapa muda bisa dijual seharga Rp5.000 hingga Rp9.000 per butir.

“Sebagian kelapa yang tua sengaja ditinggalkan untuk dipanen setelah kelapa muda diambil, sebab saat ini peluang pasar kelapa muda menjanjikan,”cetusnya.

Permintaan pisang yang meningkat juga menguntungkan Solikin, warga Muara Piluk Bakauheni. Ia kerap membeli pisang dari pulau Rimau Balak, Kandang Balak dan menjualnya ke pasar lokal, sebagian dikirim ke Banten dan Jakarta.

Penjualan pisang diakuinya memanfaatkan momen Ramadan dan jelang hari raya Idul Fitri. Sejumlah pembuat kue tradisional seperti keripik dan kolak, menjadi pembeli utama komoditas pisang.

Solikin juga menyebut, bisnis jual beli hasil pertanian akan berhenti satu pekan sebelum Lebaran. Pasalnya, sejumlah pelanggan seperti pelapak, pedagang gorengan sebagian mudik ke kampung halaman.

Penjualan pisang dilakukan untuk pembuat kue tradisional bolu pisang, keripik serta kue lainnya. Peluang permintaan pisang yang meningkat, juga menguntungkan petani. Sebab, hasil penjualan bisa digunakan untuk Ramadan dan hari raya Idul Fitri.

Lihat juga...

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

» www.escortantalyali.com