Penuhi Air Bersih, Warga Desa Lamatokan Terbiasa Antre

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LEWOLEBA – Pemandangan banyaknya masyarakat baik laki-laki maupun perempuan yang antre untuk mengambil air di sumur hampir ditemui setiap pagi hingga sore hari.

Masyarakat desa Lamatokan, kecamatan Ile Ape Timur, kabupaten Lembata, sejak dahulu mengandalkan air sumur untuk mandi dan mencuci.

“Kalau air sumur rasanya pahit karena dekat gunung api dan ada rasa belerang. Masyarakat hanya mengambil air untuk mencuci dan mandi saja tapi lebih banyak untuk mandi,” sebut Stefanus Ola, warga desa Lamatokan, kecamatan Ile Ape Timur, Selasa (14/5/2019).

Stefanus Ola warga desa Lamatokan kecamatan Ile Ape Timur kabupaten Sikka. Foto: Ebed de Rosary

Dikatakan Stefanus, warga sejak turun temurun selalu mengonsumsi air dari sumur dan sudah terbiasa.

Kalau mencuci pakaian airnya tidak berbusa meskipun mempergunakan deterjen sehingga jarang dipergunakan untuk mencuci pakaian.

“Kalau untuk minum warga memasak air hujan atau membeli air isi ulang seharga Rp 5 ribu per galonnya. Hampir di setiap dusun ada sumur yang digali sejak dulu dan disemen sehingga kondisinya masih bisa dipergunakan,” ungkapnya.

Rata-rata setiap dusun memiliki 2 sumur yang digali sehingga total ada 8 sumur di desa ini. Setiap orang bebas mengambil air sesuka hati dari sumur-sumur yang ada di desa ini menggunakan jeriken dan ember dengan membawa timba air masing-masing.

“Paling ramai saat pagi dan sore hari pasti banyak warga yang antri di sumur untuk timba air. Kami berharap pemerintah desa bisa menganggarkan dana untuk mengebor sumur air, tapi harus rasanya tawar jangan pahit atau asin,” pintanya.

Fransiska, salah seorang warga yang ditemui sedang menimba air di depan kantor desa Lamatokan mengakui, menimba air dari sumur dilakukan saat pagi dan sore hari. Biasanya pagi hari sebelum ke kebun dan sore hari sepulang dari kebun baru mengambil air.

“Saya dan anak-anak selalu mengambil air dari sumur untuk mandi. Rata-rata warga mengambil air di sumur ini kalau persediaan air hujan yang ditampung di bak-bak air di samping rumah sudah mulai menipis,” ungkapnya.

Tapi sekarang, lanjutnya, sudah mudah karena mengambil air menggunakan jeriken dan ditaruh di sepeda motor. Kalau rumah warga dekat dengan sumur, maka banyak perempuan lebih memilih menggunakan ember dan dijunjung di kepala sementara laki-laki dipanggul.

“Air di sumur tidak terlalu dalam cuma 5 meter saja sehingga tidak terlalu capek menimba air. Warga memang ingin agar dana desa bisa dipakai untuk bor air, tapi airnya jangan rasa pahit seperti yang di sumur,” harapnya.

Fransiska juga meminta agar bila ada sumur bor yang dibangun dari dana desa, maka di setiap dusun harus dipasang beberapa bak air yang dilengkapi dengan kran. Dengan begitu warga tidak harus antri lama atau bila perlu dipasang kran ke rumah-rumah warga. Setiap bulan ditarik retribusi untuk pemasukan desa.

Lihat juga...