Peternak di Pesisir Selatan Manfaatkan Mesin Chooper Pembuat Pakan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PESISIR SELATAN – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, menemukan terobosan baru dalam pemanfaatan limbah pelepah sawit yang dapat diubah menjadi pakan ternak, melalui sebuah mesin yang dikenal dengan mesin chooper.

Kepala Bidang Bina Usaha Kelembagaan dan Pengelolaan Hasil Peternakan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Rizondra mengatakan, mesin chooper tersebut berujuan untuk mempermudah para peternak untuk mendapatkan pakan sebagai bahan makanan ternaknya.

Biasanya butuh biaya yang besar untuk membeli pakan ternak, namun melalui mesin tersebut, bisa mengubah limbah pelapah sawit menjadi pakan ternak.

Menurutnya, adanya mesin chooper itu dalam menjalankan dua peran sekaligus, pertama kondisi perkebunan sawit jadi bersih dari sisa potongan pelepah kelapa sawitnya, dan kedua bisa mengirit biaya untuk membeli pakan ternak, melalui pemanfaatan limbah.

“Kita telah menyebarkan atau menyerahkan mesin chooper itu, berupa bantuan kepada sejumlah peternak. Seperti belum lama ini kita telah menyerahkan tiga unit mesin chooper kepada tiga kelompok ternak yang ada di Kabupaten Pesisir Selatan,” katanya, Rabu (15/5/2019).

Ia menjelaskan tiga mesin chooper yang diserahkan kepada tiga kelompok ternak tersebut adalah Kelompok Ternak Padang Dama II Koto Baru Kecamatan Bayang, Kelompok Ternak Sumber Lestari Sungai Sariak Kecamatan Silaut dan Kelompok Ternak Karya Tunas Muda Lunang Barat Kecamatan Lunang.

Rizondra menambahkan, pemberian bantuan mesin pemotong bahan pakan atau disebut chooper, sangat membantu peternak. Sehingga  peternak bisa memanfaatkan limbah pelepah sawit untuk dijadikan pakan ternak yang selama ini sulit untuk dimanfaatkan menjadi pakan ternak.

“Dengan adanya alat ini, kita jadi bisa memanfaatkan limbah pelepah sawit untuk dijadikan pakan ternak, selain rumput, setelah dilakukan uji coba ternyata pakan tersebut sangat disukai oleh sapi. Kepada kelompok ternak yang menerima bantuan mesin chooper itu telah kita latih juga cara menggunakannya,” katanya.

Menurutnya, dengan adanyan pemberian bantuan mesin chooper tersebut, diharapkan dapat membantu peternak untuk mengolah pakan alternatif ternak seperti pelepah sawit, tongkol jagung dan rumput unggul sehingga dihasilkan ternak sapi yang sehat, gemuk dan meningkatnya populasi ternak.

“Mudah-mudahnya dengan adanya bantuan ini, peternak jadi lebih banyak memiliki varian jenis pakan yang akan diberikan kepada ternak, sehingga akan meningkatkan produktivitas hasil ternak kita,” harapnya.

Ia menjelaskan cara dalam melakukan merawat mesin tersebut sebenarnya cukup mudah. Karena mesin itu hanya perlu digunakan sesuai dengan kapasitas yang dimiliki, agar tidak mengalami kerusakan.

Hal yang perlu ditegaskan ialah jangan memasukkan rumput melebihi kapasitas yang mampu dirajang oleh mesin tersebut. Selain itu, mesin harus dibersihkan dari sisa rumput yang menempel setelah digunakan untuk merajang agar sisa kotoran rumput atau daun basah tidak mengganggu kerja mesin.

“Dengan menggunakan mesin ini, sebenarnya para peternak bisa membuka usaha ternak atau pembuatan kompos organik. Rumput yang sudah dicacah dapat digunakan untuk bahan kompos alami atau bisa juga untuk makanan ternak sehingga lebih mudah dalam memberi makanan untuk hewan ternak,” ujarnya.

Menurutnya hal yang perlu diperhatikan hewan ternak tidak dapat mengonsumsi rumput dengan ukuran yang masih besar, jadi peternak perlu memerlukan mesin perajang tersebut, untuk menghaluskan rumput sehingga lebih mudah untuk dimakan hewan ternak yang dimiliki.

Dikatakannya, dengan menggunakan mesin itu, pakan yang dimakan ternak tersebut, dapat menghasilkan tekstur daging yang lebih bagus dan hewan ternak akan terlihat gemuk, sehingga bisa menjual sapi dengan harga yang lebih mahal.

Para peternak tidak memerlukan waktu lama untuk memberi makan sapi yang memerlukan rumput setiap hari dalam jumlah yang banyak.

“Hal itu perlu, karena sudah memiliki mesin perajang tersebut sehingga para peternak tidak perlu merajang rumput dengan cara manual dan waktu yang lebih lama. Sedangkan dalam hal pembuatan kompos organik, rumput dengan ukuran yang lebih kecil sangat diperlukan karena daun dan rumput dengan ukuran lebih halus dapat mempercepat proses fermentasi dari kompos tersebut,” jelasnya.

Lihat juga...