Polres Jakbar Tangkap 183 Terduga Pelaku Kerusuhan

Editor: Koko Triarko

Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Hengki Haryadi, saat konferensi pers terkait penangkapan para pelaku provokator di Mapolres Metro Jakarta Barat, Kamis (23/5/2019). –Foto: Lina Fitria

JAKARTA – Kepolisian Metro Jakarta Barat, menangkap 183 orang yang diduga pelaku kerusuhan usai Komisi Pemilihan Umum (Pemilu) menetapkan hasil rekapitulasi Pilpres 2019 pada saat aksi 21-22 Mei. Mereka diringkus saat insiden kerusuhan dan pembakaran di Asrama Brimob Petamburan. Mereka berasal dari berbagai daerah.

“Itu dari kelompok Banten 41 orang, Jawa Barat 27 orang, Bekasi 11 orang, Jawa Tengah 13 orang, Sumatra 11 orang, Jakarta Timur 9 orang, Jakarta Selatan 6 orang, Jakarta Utara 3 orang, Jakarta Pusat 7 orang, Jakarta Barat 49 orang, dan 6 orang masih berada di RS POLRI Kramatjati. Total 183 orang yang berhasil kita amankan,” kata Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Hengki Haryadi, di Mapolres Metro Jakarta Barat, Kamis (23/5/2019).

Hengki mengatakan, mereka terbukti melakukan kerusuhan dan pengerusakan, salah satunya di Asrama Polri di Petamburan. Dari para pelaku, polisi mengamankan beberapa barang bukti.

“Sebanyak 92 handphone, 1 sarung, 1 peer besi, 19 amplop berisi uang tunai, pasta gigi, 7 buah batu, 1 buah petasan, 1 bambu runcing, 1 golok, 2 buah bom melotov, 12 buah anak panah, dan 1 buah gunting rumput,” kata dia.

Atas perbuatannya, para perusuh 22 Mei 2019 diancam Pasal berlapis. “Secara bersama atau seorang diri melawan petugas dan melakukan pengerusakan. Pasal 212 KUHP, Pasal 214 KUHP, Pasal 170 KUHP, Pasal 187 KUHP, dan Pasal 358 KUHP. Ancamannya 12 tahun penjara,” jelas Hengki.

Hengki menjelaskan, pihak dibantu anggota Front Pembela Islam (FPI) DKI Jakarta dan para ulama, untuk menghalau kelompok massa. Dalam upaya menghalau massa itu, kerusuhan pun pecah. Mereka yang tak terima dilarang membuat rusuh lalu melempari polisi dengan batu.

“Perlu diketahui, kami dibantu ulama dan tokoh FPI, dan juga masyarakat sekitar untuk menghalau massa,” ucapnya.

Hengki mengidentifikasi massa berasal dari berbagai daerah. Yang jelas, para pelaku ini menurut Hengki sudah mempersiapkan untuk melakukan kerusuhan, membawa busur, dan bahan bakar.

“Mereka mengincar properti-properti warga dan juga polisi hingga terjadi bentrokan,” terang dia.

Ia mengatakan, berbagai temuan di lapangan sebagai fakta hukum, antara lain uang sebesar Rp20 juta, tidak termasuk yang ada di dalam amplop,  salah satu amplop, dibuka  isinya Rp100.000.

Kemudian ada pasta gigi sebagai persiapan ingin berhadapan dengan gas air mata atau petugas, dan busur akan dibawa ke labfor.

“Menurut informasi intelijen, ada zat beracun,” tandasnya.

Lihat juga...