hut

Puasa, Petani Ubi di Lombok Timur Kebanjiran Pesanan

Editor: Mahadeva

LOMBOK – Setiap bulan Ramadan, ubi termasuk tanaman pertanian paling banyak diburu masyarakat. Ubi biasa dimasak dijadikan bahan kolak, serabi, dan jenis jajanan lain sebagai menu buka puasa.

Ardi, petani ubi jalar di Desa Lendang Nangka, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat mengatakan, Ramadan menjadi bulan paling ditunggu petani ubi di desanya. Ubi hasil panen laris dibeli pengepul, untuk dijual kembali sebagai bahan kolak. “Alhamdulillah, selama Ramadan, penjualan cukup menggembirakan, semua hasil panen habis terjual dan diborong para pengepul,” kata Ardi, Rabu (15/5/2019).

Ardi (kanan), petani ubi jalar, Kabupaten Lombok Timur membantu menaikkan ubi jalar ke atas bak mobil pickup milik pengepul-Turmuzii

Selama Ramadan, petani bisa menjual langsung di rumah, tanpa harus bersusah payah mengangkut dan mengeluarkan biaya mengangkut hasil panen ke pasar tradisional. Pengepul, selama Ramadan mendatangi petani langsung ke rumah. Mereka membawa mobil angkutan untuk membawa ubi yang dibeli. “Untuk harga ubi selama Ramadan naik. Sebelum puasa, satu karung harga biasanya Rp140.000 sampai Rp150.000, sekarang harganya Rp160.000 perkarung,” jelas Ardi.

Saat ini Ardi kewalahan melayani pesanan para pengepul. Mereka memesan sampai puluhan karung, sehingga untuk memenuhi permintaan tersebut harus melibatkan tetangga memanen ubi.

Hamidi, salah satu pengepul ubi Lombok Timur mengatakan, setiap bulan puasa rutin berjualan ubi di pasar tradisional di Lombok Timur. Ubi banyak dicari oleh masyarakat.”Kebanyakan ubi jalar yang dibeli biasanya untuk dijadikan kolak, sebagai menu berbuka, termasuk bahan adonan jajanan,” tandasnya.

Selain ubi jalar, ubi kayu juga diminati sebagai kolak, pembuatan jajanan celilong, serabi dan beberapa jajanan lain. Makanan tersebut banyak dijual di pinggir jalan maupun pasar tradisional dalam bentuk bahan siap saji sebagai menu buka puasa.

Lihat juga...